Rabu, 04 November 2015

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

BAB 1
PENGANTAR AKUNTANSI KEPRILAKUAN

A.      Pengertian Akuntansi Keprilakuan
Akuntansi keperilakuan merupakan cabang ilmu akuntansi yang mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem informasi akuntansi. Akuntansi keprilakuan menjelaskan bagaimana perilaku manusia mempengaruhi data akuntansi dan keputusan bisnis serta bagaimana data akuntansi mempengaruhi keputusan bisnis dan perilaku manusia.
Konsep keperilakuan dari psikologi dan sosial diantaranya sebagai berikut:
1.        Sikap; suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan, atau situasi.
2.        Persepsi; bagaimana orang-orang melihat atau menginterprestasikan peristiwa, objek, serta manusia.
3.        Nilai; suatu modus perilaku atau keadaan akhir dari eksistensi yang khas dan lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan dengan suatu modus perilaku atau keadaan akhir yang berlawanaan.
4.        Pembelajaran; proses dimana perilaku baru diperlukan. pembelajaran terjadi sebagai hasil dari motivasi, pengalaman, dan pengulangaan dalam merespon situasi.
5.        Kepribadian; aplikasi utama dari teori kepribadian dalam organisasi adalah memprediksikan perilaku.

B.            Peranan Mempelajari Akuntansi Keprilakuan Dalam Profesi Akuntansi
1.        Untuk membantu profesi akuntansi dalam memamahi dan mengukur dampak proses bisnis terhadap orang-orang dan kinerja perusahaan.
2.        Untuk membantu profesi akuntansi dalam mengukur dan melaporkan perilaku serta pendapat yang relevan terhadap perencanaan strategis.
3.        Untuk mempengaruhi profesi akuntansi dalam berpendapat dan berperilaku guna memastikan keberhasilan implementasi kebijakan perusahan.
4.        Untuk membantu profesi akuntansi dalam pembuatan keputusan dan pertimbangan oleh akuntan dan auditor dengan baik dan benar.
5.        Untuk membantu profesi akuntansi dalam penyusunan anggaran, karakteristik sistem informasi, dan fungsi audit terhadap perilaku baik karyawan, manajer, investor, maupun wajib pajak.
6.        Untuk membantu profesi akuntansi dalam memenuhi persyaratan pelaporan yang dapat mempengaruhi perilaku disemua bidang akuntansi: keuangan, perpajakan, akuntansi manajerial dan akuntansi sosial.
§   Akuntansi keuangan, contohnya: “Bagaimana perlakuan atas kerugian akibat melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar?” dan ”Bagaimana perlakuan atas kelebihan nilai pembayaran kontrak utang dalam mata uang asing?”
§   Akuntansi perpajakan, umumnya persyaratan pelaporan akuntansi perpajakan dipandang rumit dan sulit bagi banyak pembayar  pajak.
§   Akuntansi manajerial, manajemen dapat memberlakukan persyaratan pelaporan internal apapun yang diinginkannya kepada bawahan.
§   Akuntansi sosial, contohnya: dilema penyusunan laporan, polusi, keamanan produk, dan tanggungjawab sosial lainnya.
7.        Membantu profesi akuntansi salah satunya akuntan dalam mengatur aktifitas organisasi. Perilaku para akuntan dapat menerapkan pengetahuan persepsi terhadap banyak aktifitas organisasi. Misalnya dalam evaluasi kinerja, cara penilaian atas seseorang mungkin dipengaruhi oleh ketelitian persepsi.
 

BAB 2
PERTIMBANGAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
DALAM AKUNTANSI KEPERILAKUAN

A.           Pengertian Keputusan
Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu:
(1) ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan;
(2) ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik; dan
(3) ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut. 
Kesimpulan: keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif. Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah yang terdiri dari beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama didalam organisasi.

B.      Langkah-langkah Penganbilan Keputusan
1.        Pengenalan dan pendefinisian atas suatu masalah atau suatu peluang.
2.        Pencarian atas tindakan alternatif dan kuantifikasi atas konsekuensinya.
3.        Pemilihan alternatif yang optimal atau memuaskan.
4.        Penerapan dan tindak lanjut.
Motif kesadaran ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu yang masih berada dalam tingkat kesadaran seseorang. Terdapat dua faktor penting dari motif kesadaran dalam konteks pengambilan keputusan, yaitu : (1)   Keinginan akan kestabilan atau kepastian, (2) Keinginanan akan kompleksitas dan keragaman.

C.      Model Keputusan
1.        Model keputusan yang diprogram secara sederhana.
Model ini ditandai dengan aturan-aturan prediksi yang tidak kompleks, yang ditetapkan oleh orang lain yang bukan si pengambil keputusan. Altrnatif yang memuaskan, ketika pertama kali ditemukan, biasanya langsung dipilih. Alternatif-alternatif tersebut dinilai berdasarkan kriteria-kriteria yang sederhana dengan risiko yang minimum, yang penerapannya dilakukan secara individu.
2.        Model keputusan yang tidak diprogram secara sederhana.
Pada model ini, apa pun akan terlihat baik pada saat itu bagi si pengambil keputusan yang langsung memilih alternatif tersebut. Informasi bersumber dari prasangka melalui keyakinan-keyakinan umum.
3.        Model keputusan yang diprogram secara kompleks.
Pada model ini melibatkan perencanaan yang begitu rinci. Masalah dan peluang diantisipasi dengan skala prioritas yang begitu hati-hati. Alternatif-alternatif yang ada dievaluasi berdasarkan pertimbangan memaksimalkan manfaat jangka panjang.
4.        Model keputusan yang tidak diprogram diprogram secara kompleks.
Model ini memiliki ciri khas yaitu partisipasi yang terus-menerus dari semua orang yang terlibat untuk memaksimalkan perolehan informasi dan koordinasi.

D.      Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
Perusahaan Sebagai Unit Pengambilan Keputusan
Perusahaan dapat dianggap unit pengambilan keputusan yang mirip dalam banyak cara untuk individu. Masalah keputusan yang dihadapi perusahaan sangat banyak dan gejala masalah dana alternatif yang paling jelas. 
Organisasi pembelajaran
Ketika pendekatan pencarian tertentu menemukan solusi yang layak untuk suatu masalah, organisasi kemungkinan besar akan mengulang pendekatan yang sama dalam memecahkan masalah serupa di masa mendatang. Ketika sebuah pendekatan khusus gagal, maka akan menghindari dalam pencarian masa depan yang sama berlaku untuk urutan alternatif yang dipertimbangkan; juga, akan berubah jika organisasi mengalami kegagalan dengan preferensi tertentu.
Manusia-Para Pengambil Keputusan Organisasi
Penting untuk diingat bahwa manusia, dan bukanya organisasi, yang mengenali, mendefenisikan masalah atau peluang, yang mencari tindakan alternatif secara optimal dan menerapkanya. Pengaturan organisasi di mana orang yang digunakan tergantung pada jenis masalah keputusan atau oppurtinity ditemui.
Kekuatan dan Kelemahan Individu sebagai Kengambilan Keputusan
Manusia merupakan makhluk yang rasional karena memilih kepastian untuk berpikir, memilih, dan belajar. Tetapi rasionalitas manusia adalah sangat terbatas karena mereka hampir tidak pernah memperoleh informasi yang penuh dan hanya mampu memproses informasi yang tersedia secara berurutan.       Perilaku rasional dari individu dalam situasi pengambilan keputusan oleh kerena itu terdiri dari atas pencarian diantara alternatif-alternatif yang terbatas akan suatu solusi yang masuk akal dalam kondisi dimana konsekuensi dari tindakan tidaklah pasti.

 
BAB 3
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN KEUANGAN

A.      Definisi Perencanaan dan Pengendalian Keuangan
Perencanaan dan pengendalian keuangan Perencanaan keuangan (financial planning) adalah proyeksi penjualan, laba, dan aktiva yang didasarkan pada berbagai strategi produksi dan pemasaran dan juga panda penentuan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai proyeksi tersebut.
Perencanaan Keuangan adalah proses dari :
1.        Menganalisis pendanaan dan pilihan investasi yang terbuka bagi perusahaan.
2.        Memproyeksikan konsekuensi masa yang akan datang akibat keputusan saat ini, guna menghidari hal-hal yang tidak terduga dan hubungan antara keputusan saat ini dan masa yang akan datang.
3.        Menentukan alternatif mana yang akan dipilih
4.        Mengukur hasil selanjutnya terhadap tujuan dalam rencana keuangan.
Pengendalian keuangan adalah tahap dimana rencana keuangan diimplementasikan, yaitu menyangkut umpan balik dan proses penyesuaian yang diperlukan untuk menjamin bahwa rencana terlaksana atau untuk mengubah rencana yang ada sebagai tanggapan terhadap berbagai perubahan dalam lingkungan operasi. Pengendalian /Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Tujuan pengendalian :
1.        Supaya proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan dari rencana.
2.        Melakukan tindakan perbaikan (corrective), jika terdapat penyimpangan-penyimpangan (deviasi).
3.        Supaya tujuan yang dihasilkan sesuai dengan rencana.

B.            Jenis, Proses, dan Cara Pengendalian
Jenis Pengendalian Secara Umum
1.        Internal control (pengendalian intern)
pengendalian yang dilakukan oleh seorang atasan kepada bawahannya.Cakupan dari pengendalian ini meliputi hal-hal yang cukup luas baik pelaksanaan tugas, prosedur kerja, kedisiplinan karyawan, dan lain-lainya. Audit control, adalah pemeriksaan atau penilaian atas masalah-masalah yang berkaitan dengan pembukuan perusahaan. Jadi pengawasan atas masalah khusus, yaitu tentang kebenaran pembukuan suatu perusahaan.
2.        External control (pengendalian ekstren)
pengendalian yang dilakukan oleh pihak luar.Pengendalian ekstren ini dapat dilakukan secara formal atau informal. Misalnya : Pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) terhadap BUMN dan lain-lainnya.Dewan Komisaris terhadap PT bersangkutan.
3.        Formal control, pemeriksaan yang dilakukan oleh instansi atau pejabat resmi dan dapat dilakukan secara intern maupun ekstern.
4.        Informal control, penilaian yang dilakukan oleh masyarakat atau konsumen, baik langsung maupun tidak langsung.

Jenis Pengendalian Berdasarkan Bagaian Yang Diawasi:
1.        Pengendalian karyawan (Personal control).
ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan kegiatan pegawai, apakah pegawai bekerja sesuai dengan perintah, rencana, tata kerja, absensi pegawai dan lain-lain.
2.        Pengendalian keuangan (financial control)
untuk hal-hal yang menyangkut keuangan,tentang pemasukan dan pengeluaran,biaya-biaya perusahaaan termasuk pengendalian anggaranya.
3.        Pengendalian produksi (Production control).
Yaitu pengendalian yang difokuskan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standar atau rencananya.
4.        Pengendalian waktu (Time control)
ditujukan kepada penggunaan waktu, artinya apakah waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak dengan rencana.
5.        Pengendalian teknis (Technical control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik, yang berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
6.        Pengendalian kebijaksanaan (Policy control).
untuk mengetahui dan menilai apakah kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai dengan yang digariskan.
7.        Pengendalian penjualan (Sales control)
untuk mengetahui apakah produksi yang dihasilkan terjual sesuai rencana yang ditentukan.
8.        Pengendalian inventaris (inventory control)
untuk mengetahui apakah inventaris perusahaan masih ada semuanya atau ada yang hilang. 
9.        Pengendalian pemeliharaan (maintenance control)
untuk mengetahui apakah semua inventaris perusahaan dan kantor terprlihara atau tidak,dan mengetahui kerusakan.  

Langkah-langkah proses pengendalian:
1.        Menentukan standar-standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
2.        Mengukur pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai.
3.        Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standar dan menentukan penyimpangan jika ada.
4.        Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan sesuai dengan rencana.

Cara-cara Pengendalian:
1.        Pengawasan langsung
Pengawasan yang dilakukan sendiri secara langsung oleh seorang manajer.Manajer memeriksa pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mengetahui apakah apakah dikerjakan dengan benar dan hasilnya sesuai dengan yang dikehendakinya.
Kebaikan:
·      Jika ada kesalahan dapat diketahui sedini mungkin,sehingga perbaikanya dilakukan dengan cepat.
·      Akan terjadi kontak langsung antara bawahan dan atasan,sehingga akan memperdekat hubungan antara atasan dan bawahanya.
·      Akan memberikan kepuasan tersendiri bagi bawahan,karena merasa diperhatikan atasanya.
·      Akan tertampung sumbangan pikiran dari bawahan yang mungkin bisa berguna bagi kebijaksanaan selanjutnya.
·      Akan dapat menghindari timbulnya kesan laporan “asal Bapak senang” (ABS).
Keburukan:
·      Waktu seorang manajer banyak tersita,sehingga waktu untuk pekerjaan lainya berkurang,misalnya planning lain-lainya.
·      Mengurangi inisiatif bawahan,karena mereka merasa bahwa atasanya selalu mengamatinya.
·      Ongkos semakin besar karena adanya biaya perjalanan dan lain-lainya.
Pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara inspeksi langsung,observasi di tempat (on the spot observation) dan laporan di tempat (on the spot report)
2.        Pengawasa tidak langsung
pengawasan jarak jauh dengan melalui laporan oleh bawahan baik secara lisan maupun tulisan tentang pelaksanaan pekerjaan dan hasi-hasil yang dicapai.
Kebaikan:
·      Waktu manajer untuk mengerjakan tugas-tugas lainya semakin banyak,misalnya perencanaan,kebijaksanaan,dan lain-lain.
·      Biaya pengawasan relatif kecil.
·      Memberikan kesempatan inisiatif bawahan berkembang dalam melaksanakan pekerjaan.
Keburukan:
·      Laporan kadang-kadang kurang objective,karena ada kecendrungan untuk melaporkan yang baik-baik saja.
·      Jika ada kesalahan-kesalahan terlambat mengetahuinya,sehingga perbaikanya pun terlambat.
·      Kurang menciptakan hubungan-hubungan antara atasan dan bawahan.
3.        Pengawasan berdasarkan kekecualian, pengendalian yang dikhususkan untuk kesalahan-kesalahan yang luar biasa dari hasil atau standar yang diharapkan,pengendalian ini dilakukan dengan cara kombinasi langsung dan tidak langsung oleh manajer.

C.      Pengendalian Terpadu
1.        Perencanaan
Proses perencanaan dalam organisasi juga ditandai dengan istilah perilaku penetapan tujuan. Aspek-aspek terpenting dari proses penetapan tujuan adalah mengenai dasar dari organisasi dan komunikasi.
2.        Umpan Balik
Umpan balik dalam organisasi berasal dari sumber formal dan informal yang disusun dari komunikasi nonverbal. Komunikasi tersebut secara rutin dihasilkan dari statistik yang ditabulasikan sebagai dasar untuk evaluasi penyusunan. Evaluasi ini akan mempengaruhi distribusi kompensasi, pemberian sanksi, dan perubahan atas proses perencanaan serta operasi sebagai akibat dari umpan balik.
3.        Interaksi Pengendalian
Saling keterkaitan diantara sub-sistem pengendalian juga memegang peranan penting atas hasil yang kurang memuaskan. Logikanya, perencanaan lebih dahulu ada dibandingkan dengan operasi dan ukuran umpan balik berasal dari rencana-rencana operasi serta tujuan-tujuan yang ditetapkan.

D.      Faktor-Faktor Kontekstual
Proses dalam mengidentifikasikan faktor-faktor kontekstual yang penting merupakan subjek tertinggi dan sangat temporer, seperti apakah pendapat seseorang manajer lebih penting dibandingkan dengan pendapat manajer lain? Semua daftar dari faktor-faktor kontekstual kritis merupakan subjek untuk melakukan perbaikan secara keseluruhan.
1.        Ukuran
Ukuran dipandang sebagai peluang jika berfungsi sebagai pemberi manfaat ekonomi dan buka sebagai strategi pengendalian. Ukuran dapat menjadi suatu hambatan jika pertumbuhan ekonomi menyebabkan terjadinya eliminasi tehadap strategi pengendalian.
2.        Stabilitas Lingkungan
Desain pengendalian dalam lingkungan yang stabil dapat berbeda dari desain pengendalian dalam lingkungan yang selalu berubah. Stabilitas dalam lingkungan eksogen dapat dinilai dari gerakan yang secara eksternal menghasilkan produk-produk yang memerlukan satu tanggapan.
3.        Motif Keuangan
Keberadaan dari motif keuangan tentunya bukanlah penghalang untuk menggunakan ukuran-ukuran penilaian akuntansi terhadap produktivitas. Pada sisi lain, jelas bahwa system pengendalian dan didasarkan pada motif dan ukuran-ukuran profitabilitas sering kali tidak dapat diterjemahkan secara langsung pada konteks nirlaba (nonprofit). Ukuran-ukuran laba adalah penting dan meskipun sulit dapat menjadi indicator dari keberhasilan.
4.        Faktor-faktor Proses
Suatu faktor proses penting dalam pegendalian biaya-biaya yang tidak dapat dihindari dan biaya-biaya untuk melakukan rekayasa adalah biaya variable. Strategi pengendalian biaya untuk proses strategi biaya variable sering kali berbeda dalam hal substansi dengan startegi pengendalian biaya yang disesuaikan, seperti aplikasi biaya tetap.

E.      Pengendalian Dalam Era Pemberdayaan
Untuk melindungi perusahaannya, para manajer senior didorong untuk mendefinisikan ulang bagaimana mereka melaksanakan tugas-tugas mereka dan bagaimana mereka yakin bahwa bawahan dengan bakat kewirausahaan tidak membahayakan kelangsungan hidup perusahaan.
1.        System Pengendalian Diagnostik
bertujuan untuk menghilangkan beban manajer terhadap pengawasan yang konstan. Sekali tujuan ditetapkan, penghargaan akan didasarkan pada tujuan tersebut.
2.        System Kepercayaan
Perusahaan menggunakan system kepercayaan selama bertahun-tahun dalam upayanya untuk menegaskan nilai-nilai dan arah yang diinginkan oleh para manajer yang diterapkan oleh karyawannya.
3.        System Batasan
System ini didasarkan pada prinsip manajemen yang sederhana namun mendasar, yang dapat disebut sebagai kekuatan pemikiran negative.
4.        System Pengendalian Interaktif
System pengendalian interaktif merupakan system informasi formal yang digunakan oleh para manajer untuk melibatkan diri secara terus menerus dan secara personal dalam keputusan bawahan.
5.        Penyeimbangan Pemberdayaan dan Pengendalian
Para manajer senior yang mengatur arah dan strategi perusahaan secara keseluruhan memastikan bahwa mereka memiliki cukup pengendalian atas operasinya yang luas dengan menggunakan seluruh unsure pengendalian. Untuk mengkomunikasikan nilai inti, mereka mengandalkan system kepercayaan.

F.      Alat Pengendalian
1.        Budget: suatu ikhtisar hasil yang akan diharapkan dari pengeluaran yang disediakan untuk mencapai hasil tersebut. Apabila tidak sesuai dengan budget, baik pemerimaan maupun pengeluaran maupun hasil yang diperoleh maka perusahaan itu tidak efektif karena terdapat penyimpangan.
2.        Non-budget: (1) Personal observation, pengawasan langsung secara pribadi oleh pimpinan perusahaan terhadap para bawahan yang sedang bekerja. (2) Report, laporan yang dibuat oleh para manajer. (3) Financial statement, daftar laporan keuangan yang biasanya terdiri dari Balance sheet dan Income Statement (neraca rugi laba). (4) Statistic, merupakan pengumpulan data, informasi, dan kejadian yang tealh berlalu. (5)  Break event point, suatu titik atau keadaan ketika jumlah penjualan tertentu tidak mendapat laba ataupun rugi. (6) Intenal Audit, pengendalian yang dilakukan oleh atasan terhadap bawahan yang meliputi bidang-bidang kegiatan secara menyeluruh yang menyangkut masalah keuangan.

G.     Analisis Varians Pengendalian Biaya
Unsur utama dari pengendalian biaya adalah perbandingan secara periodik antara biaya aktual dengan sasaran biaya yang sudah ditentukan sebelumnya, baik dalam bentuk anggaran maupun standar. Perbandingan tersebut juga akan menghasilkan sejumlah varians karena mustahil bahwa biaya aktual yang terjadi akan setara dengan standar atau anggaran dari elemen operasional yang dikendalikan. Varians tersebut dapat merupakan hasil dari berbagai penyebab, beberapa diantaranya dapat dijelaskan dan dikendalikan, sementara yang lain tidak dapat dijelaskan maupun dikendalikan.
-      Keputusan Investigasi Varians  
Keputusan manajemen semata-mata bergantung pada penilaiannya atas signifikan diskrepansi yang diamati. Varians ini memiliki signifikan pengendalian hanya jika varians berasal dari penyebab yang dapat ditentukan atau, dengan kata lain, tidak bersifat acak dan rentan terhadap tindakan perbaikan. Kerumitan permasalahan yang sebenarnya terletak pada fakta bahwa tanpa investigasi, manajemen  tidak memiliki  dasar untuk menentukan apakah varians tertentu ditimbulkan dari penyalahgunaan yang dapat diidentifikasi dan dikendalikan, atau apakah varians tersebut bersifat acak atau tidak dapat dikendalikan.
-      Aspek Keperilakuan
Komponen khusus dari kebijakan pengendalian yang dapat mempengaruhi respon manusia adalah faktor- factor seperti batas yang ditetapkan oleh manajemen, jenis hasil umpan balik, keketatan pemaksaan, dan penghargaan serta sanksi yang terkait dengan kebijakan pengendalian.
·      Batas pengendalian  
Batas ini menentukan seberapa mudah atau sulit bagi seseorang yang dikendalikan untuk berkinerja dalam kisaran yang dapat diterima dan berapa banyak ruang mereka memiliki untuk gagal sekali waktu.
·      Hasil umpan balik
Umpan balik yang positif akan memberitahukan mereka bahwa mereka ada jalur yang tepat dan akan memotivasi mereka untuk mengulangi usaha yang sama. Umpan balik yang negatif  tidak akan secra otomatis mendorong mereka untuk melakukan usaha yang lebih besar, tetapi hal tersebut dapat secara perlahan-lahan menurunkan tingkat sapirasi mereka dan mengikis tingkat usaha serta kinerja mereka.
·      Keketatan pemaksaan
Pemaksaan yang ketat atas kebijakan pengendalian akan menimbulkan tekanan dalam diri individu yang dikendalikan namun pemaksaan yang longgar akan menurunkan motivasi individu untuk berjuang bagi pencapaian tujuan.
·      Struktur penghargaan
Orang atau kelompok akan memodifikasi perilaku mereka yang tidak diinginkan dan mengulangi perilaku yang diinginkan ketika mereka memandang bahwa perubahan atau pengulangan perilaku tersebut disertai dengan penghargaan intrinsik  maupun ekstrinsik. Efek umpan balik psikologi antara berbagai factor dari kebijakan pengendalian dengan masa depan.maka kebijakan pengendalian yang ideal harus dibuat khusus dan bervariasi dari situasi ke situasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar