BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Menghubungkan
Kinerja dan Gaji dengan Strategi
a. Hubungan
antara Kinerja dan Gaji dengan strategi
tidak memiliki keterkaitan . Karena sistem penggajian dalam perusahaan
telah ditetapkan berdasarkan aturan yang telah dibuat oleh perusahaan. Tetapi
dalam pemberian gaji biasanya perusahaan memberikan kompensasi kepada setiap
individu didalamnya. Kompensasi sendiri berfungsi sebagai strategi atas dasar meningkatkan kinerja masing– masing individu diperusahaan.
Perusahaan menggunakan kompensasi sebagai alat untuk mendorong tujuan tahunan
maupun tujuan jangka panjang suatu perusahaan. Didalam kompensasi terdapat bermacam – macam jenis kompensasi yang dapat di berikan kepada
setiap individu dalam perusahaan. Contoh kompensasi yang biasanya diberikan
perusahaan adalah bonus atau insentif dan pembagian laba atau bagi hasil.
b. Kriteria
seperti penjualan, laba, efisiensi produksi, kualitas, dan keamanan juga bisa
menjadi dasar untuk sistem bonus yang efektif. Sistem bonus dapat menjadi
sebuah alat yang efektif untuk memotivasi individu guna mendukung upaya
penerapan strategi. Contoh perusahaan yang memberikan sistem bonus atau
insentif adalah PT. Gudang Garam Tbk. Sistem penggajian dan kompensasi telah di
buat sedemikian rupa demi menunjang kinerja individu perusahaan agar meningkat
setiap tahunnya.
c. Kriteria
lain yang juga digunakan untuk menghubungkan kinerja dan gaji dengan strategi
adalah pembagian laba atau bagi hasil. Pembagian hasil mendorong karyawan atau
departemen menetapkan target kinerja. Jika aktualnya melampaui tujuan, seluruh
anggota mendapatkan bonus.
d. Selain
sistem bonus/insentif dalam kompensasi, masih banyak kombinasi berbagai
insentif strategi penghargaan seperti kenaikan gaji, opsi saham, tunjangan –
tunjangan karyawan, promosi, pujian, pengakuan, kritik, rasa takut, otonomi
pekerjaan yang lebih besar, dan hadiah. Hal tersebut dapat digunakan untuk mendorong
individu dalam perusahaan lebih bekerja keras demi penerapan strategi yang
berhasil.
B.
Mengelola
Resistensi terhadap Perubahan
Resistensi
terhadap perubahan bisa muncul pada tingkatan mana pun dari poses penerapan
strategi. Meskipun ada beberapa pendekatan untuk menerapkan perubahan, namun
hanya terdapat tiga strategi yang biasa digunakan adalah:
1.
Strategi perubahan paksa
Strategi
perubahan paksa (force change strategy)
meliputi dikeluarkannya perintah dan kewajiban untuk menjalankan perintah
tersebut. Keunggulan strategi ini terletak pada kecepatannya; sedangkan
kelemahannya adalah rendahnya komitmen dan tingginya resistensi.
2.
Strategi perubahan edukatif
Strategi
perubahan edukatif (educative change
strategy) adalah strategi yang menyajikan informasi untuk meyakinkan orang
akan perlunya perubahan. Keunggulan stategi ini yaitu menghasilkan komitmen yag
lebih tinggi dan resistensi yang lebih sedikit daripada strategi perubahan
paksa; sedangkan kelemahannya adalah bahwa penerapannya menjadi lebih lambat dan
sulit.
3.
Strategi perubahan rasional
Strategi
perubahan rasional (interest change
strategy) adalah strategi yang berusaha meyakinkan individu-individu bahwa
perubahan itu perlu demi keuntungan atau kepentingan pribadi mereka. Strategi
perubahan rasional adalah yang paling baik, sehingga pendekatan ini lebih
ditekankan pada pengguna strategi.
Jack
Duncan menyatakan bahwa strategi perubahan rasional terdiri atas empat langkah
yaitu:
a. pertama,
karyawan diundang untuk berpartisipasi dalam proses perubahan dan detail-detail
transisi; partisipasi memungkinkan setiap orang untuk beropini; merasa menjadi
bagian dari proses perubahan; dan mengidentifikasi kepentingan pribadi mereka
dalam kaitannya dengan perubahan yang diusulkan.
b. kedua,
motivasi atau insentif tertentu untuk perubahan diperlukan; kepentingan sendiri
atau pribadi dapat menjadi motivator yang terpenting.
c. ketiga,
komunikasi dibutuhkan sehingga orang dapat memahami tujuan atau maksud dari
perubahan.
d. keempat,
memberi dan menerima umpan balik; setiap orang suka mengetahui bagaimana
keadaan dan seberapa besar kemajuan yang dicapai.
C.
Mengelola
Lingkungan Hidup
Manusia
dikenal sebagai makhluk hidup yang berakal sehat dan pandai di dalam mengelola
berbagai sumber daya. Telah berkembangnya berbagai teknologi yang bertujuan
untuk memberikan berbagai macam kemudahan dari berbagai kegiatan. Contohnya
adalah teknologi transportasi yang memudahkan bepergian dari satu tempat ke
tempat yang lainnya tanpa terlalu banyak waktu yang terbuang. Namun,
pengembangan teknologi seringkali berjalan ke arah yang berlawanan dengan
keinginan untuk melestarikan lingkungan hidup. Contohnya adalah teknologi
transportasi. Dengan adanya teknologi transportasi dan meningkatnya jumlah
kendaraan bermotor, jumlah emisi gas juga ikut naik dan ini berdampak buruk
bagi lingkungan.
Isu-isu
lingkungan hidup mencakup penipisan ozon, pemanasan global, berkurangnya luasan
hutan hujan, kerusakan habitat hewan, perlindungan terhadap spesies yang
terancam punah, pengembangan produk dan pengemasan yang bisa luruh secara
biologis, pengelolaan limbah, udara yang bersih, air bersih, erosi, kerusakan
sumber daya alam, dan pengendalian polusi. Perusahaan-perusahaan kini dituntut
untuk segera memasuki era revolusi industri hijau. Perusahaan yang mampu
menciptakan dan mengembangkan produk ramah lingkungan akan diberikan label oleh
lembaga sertifikasi.
Perusahaan
perlu merumuskan dan menerapkan strategi dari perspektif lingkungan hidup. Strategi
pengelolaan lingkungan hidup harus diterapkan dengan baik agar perubahan
lingkungan hidup dapat di tahan selama mungkin dan tentunya hal ini harus
dilakukan dengan disiplin yang tinggi. Pada intinya, terdapat empat jenis
strategi pengelolaan lingkungan yang dapat digunakan demi lestarinya lingkungan
hidup.
1.
Pengelolaan lingkungan secara rutin
2.
Perencanaan yang lebih awal dan lebih cepat didalam
mengelola satu lingkungan
3.
Pengelolaan lingkungan dengan memperhitungkan dampak
yang akan terjadi.
4. Pengelolaan
lingkungan untuk perbaikan.
D.
Mencipatakan
Budaya yang dapat Mendukung strategi
Perusahaan
gerakan oleh budaya dan setiap perusahaan beroperasi dalam sebuah budaya.
Seluruh variable yang mendukung keberadaan peruhasaan terhimpun dalam satu
kekuatan yang disebut budaya. Budaya perusahaan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan visi dan strategi perusahaan, tapi hal ini membutuhkan campur tangan
yang sangat kuat dan dominan dari pemilik, pemimpin, dan manajemen perusahaan.
Agar semua variable pembentuk budaya tersebut dapat di arahkan
sesuai visi dan misi yang di impikan.
Budaya
perusahaan secara tidak langsung akan membangun komitmen untuk saling
berkerjasama mamelalui semua variable
pembentuk budaya. Lalu menjadi alat yang mampu menyampaikan filosofi, untuk
menjalankan semua proses kerja yang terfokuskan kepada efektifitas organisasi,
melegitimasi aktivitas, memotivasi staf dan pimpinan, serta memfasilitasi semua
interaksi dan komunikasi kepada stakeholder. Menurut Schein ada beberapa elemen
yang bermanfaat dari hubungan budaya dan strategi sebagai berikut:
1.
Pernyataan resmi filosofi, akta
pendirian, kredo, materi perusahaan uang digunakan merekrut dan menyeleksi
serta sosialisasi.
2.
Mendesain ruang, serambi, dan bangunan
3.
Memberikan teladan, pengajaran dan
pelatihan oleh pimpinan
4.
System kompensasi dan status juga system
promosi yang tegas
5.
Kisah legenda, mitos, dan perumpamaan
mengenai orang-orang serta kejadian penting
6.
Apa yang diperhatikan diukur dan
dikenaikan oleh pimpinan.
7.
Reaksi pimpinan terhadap peristiwa
penting dan krisis organisasi
8.
Bagaimana organisasi dirancang dan
disusun
9.
System dan prosedur organisasi
10. Kiteria
yang digunakan untuk merekrut, menyeleksi, mempromosikan, mengeluarkan,
memensiunkan dan mengecilkan orang.
Keberadaan budaya organisasi yang
sesuai visi dan misi dan strategi perusahaan dapat mengoptimalkan efisiensi,
efektifitas, keharmonisan kerja, keuntungan dan daya tahan perusahaan dalam
menghadapi berbagai risiko dan rintangan.
Bila manajemen perusahaan merasakan
budaya yang ada belum sesuai dengan visi, strategi dan harapan, maka manajemen
dapat secara proaktif mengubah budaya organisasi yang tidak sesuai menjadi
sesuai dengan arah dan alangkah. Tapi semua itu membutuhkan tindakan dan niat
yang kuat untuk membangun budaya yang ideal dan kuat.
Pembentukan budaya organisasi yang kuat akan menciptakan eralitas terhadap tata kelola perusahaan yang professional. Hal ini akan membawa efek positif terhadap daya tahan dan keunggulan perusahaan dalam menghadapi berbagai tantangan dan kompetisi.
Oleh
karena itu para penyusun strategi harus berusaha keras melestarikan, menekankan
dan membangun berdasarkan aspek-aspek budaya yang ada untuk membangun strategi
baru yang akan diusulkan biasanya aspek-aspek budaya yang ada untuk membangun
strategi baru yang akan di usulkan biasanya .Aspek-aspek budaya yang sudah ada
sangat bertentangan dengan strategi baru maka budaya yang sudah ada di
identifikasikan dan diubah sesuai dengan strategi yang baru. mengubah budaya menyesuaikan dengan strategi biasanya lebih efektif daripada
mengubah strategi agar dapat sesuai dengan budaya. Jack Duncan mendeskripsikan
triangulasi sebagai sebuah teknik multimetode yang efektif untuk mempelajari
dan mengubah budaya perusahaan.Triangulasi mencakup kombinasi penggunaan
observasi yang menonjol .kuesioner yang di selenggarakan sendiri ,dan wawancara
pibadi untuk perubahan yang perlu dibuat dalam budaya sebuah perusahaan demi
perusahaan strategi baru.
E. Masalah-masalah
Produksi/operasi ketika menerapkan strategi
Proses produksi adalah kegiatan mengolah
masukan (input, sumber daya produksi) dalam proses dengan menggunakan metode
tertentu untuk menghasilkan keluaran (output, barang maupun jasa) yang sesuai
dengan ketentuan.
Keputusan-keputusan yang terkait dengan
produksi mengenai ukuran pabrik, lokasi pabrik, desain pabrik, pilihan
peralataan, jenis peralatan, besarnya persedian, pengendalian persediaan,
pengendalian mutu/kualitas, pengendalian biaya, penggunaan standar,
spesialisasi pekerjaan, pelatihan karyawan, penggunaan peralatan dan sumber
daya, pengiriman serta pengemasan, serta inovasi teknologi dapat memiliki
dampak yang dramatis terhadap keberhasilan atau kegagalan upaya-upaya penerapan
strategi.
Dalam proses produksi masih terdapat
kelemahan-kelamahan dimana adanya pemborosan yang meningkatkan biaya produksi diantaranya:
sumber daya produksi terlalu banyak, produksi berlebihan, persediaan terlalu
banyak, investasi modal yang tak perlu.
Untuk mengurangi pemborosan-pemborosan
yang terjadi diatas dilakukan dengan pendekatan Just in Time (system produksi
tepat waktu) yakni sistem produksi
atau sistem manajemen pabrikasi modern yang dikembangkan oleh
perusahaan-perusahaan Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis-jenis
barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh
konsumen, sehingga dapat membantu mengurangi biaya.
Dalam system
JIT
suatu rangkaian proses produksi, suku cadang yang diperlukan untuk perakitan
tiba pada ujung lini rakit pada waktu yang diperlukan dan hanya dalam jumlah
yang diperlukan. Perusahaan yang menerapkan sistem ini pada seluruh lini
produksi dapat mendekati persediaan nol.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikam
sebelum menempatkan fasilitas produksi mencakup ketersediaan sumber daya utama,
tingkat upah buruh di wilayah tersebut, biaya transportasi yang terkait denbgan
pengiriman dan penerimaan barang, lokasi pasar-pasar besar, resiko politik di
wilayah atau negara dan ketersediaan karyawan yang terlatih.
Industri seperti biogenetika dan plastik
bergantung pada system produksi yang seharusnya cukup fleksibel sehingga
memungkinkan perubahan yang sering dan
pengenalan produk baru yang cepat
Pada umumnya banyak organisasi mengalami
masalah dalam penerapan strategi dikarenakan mereka terlalu lambat menyadari
bahwa perubahan dalam strategi produk mengubah system produksi.
F.
Masalah-Masalah SDM Ketika Menerapkan Strategi
Dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan, permasalahan
yang dihadapi manajemen bukan hanya terdapat hanya pada bahan mentah, alat-alat
kerja, mesin-mesin produksi, uang dan lingkungan kerja saja, tetapi juga
menyangkut karyawan (sumber daya manusia) yang mengelola factor produksi
lainnya tersebut. Karyawan baru yang belum memilii keterampilan dan keahlian
dilatih, sehingga menjadi karyawan yang terampil dan ahli. Apabila dia dilatih
lebih lanjut serta diberikan pengalaman dan motivasi, dia akan menjadi karyawan
yang matang. Pengolahan sumber daya manusia inilah yang disebut Manajemen SDM. Tanggung
jawab strategis SDM mencakup evaluasi kebutuhan dan biaya staf untuk strategi
alternatif yang diusulkan selama tahap perumusan strategi dan pengembangan
rencana untuk penerapan strategi yang efektif. Sistem manajemen strategis yang
dirancang dengan baik bisa gagal jika tidak ada perhatian yang memadai pada
dimensi SDM. Masalah-masalah sumber daya manusia yang muncul ketika bisnis
menerapkan strategi biasanya dapat dilacak pada salah satu dari 3 penyebab
berikut :
1. Gangguan
struktur sosial dan politik
2. Kegagalan
dalam memadukan keahlian seseorang
dengan tugas-tugas penerapan
3. Kurangnya
dukungan dari manajemen puncak pada aktifitas penerapan
Salah satu fokus dalam
memadukan manajer dengan strategi adalah bahwa pekerjaan itu mempunyai tanggung
jawab yang spesifik dan relatif statif, walaupun dinamis dalam pengembangan
kepribadian mereka.
Program Kepemilikan
Saham Oleh Karyawan
Program Kepemilikan Saham Bagi Karyawan (PKSK), dalam
bahasa Inggris sering disebut dengan ESOP, merupakan suatu program yang memungkinkan
partisipasi karyawan untuk memiliki saham perusahaan atau induk perusahaan
tempat mereka bekerja. Program ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara
lain dengan memberikan saham secara cuma-cuma (stock grant), menjual saham
kepada karyawan, atau dengan memberikan opsi kepada karyawan untuk membeli
saham perusahaan selama periode tertentu. Selain mengurangi
keterasingan pekerja dan merangsang produktifitas , ESOP juga menawarkan
manfaat lain bagi perusahaan , seperti penghematan pajak dalam jumlah yang
substansial.
Menyeimbangkan antara
kehidupan kerja dan kehidupan rumah tangga
Strategi pekerjaan/keluarga menjadi semakin populer di kalangan
perusahaan karena strategi tersebut merepresentasikan sebuah keunggulan
kompetitif bagi perusahaan – perusahaan yang menawarkan tunjangan seperti
bantuan perawatan lansia, jam kerja yang lebih flexibel, pembagian kerja,
tunjangan adopsi dll. Manajer sumber daya manusia perlu mengupayakan
keseimbangan yang lebih efektif antar kehidupan profesional dan pribadi karena
semakin banyak orang merupakan bagian dari keluarga di mana sang suami maupun
istri bekerja. Sebuah masalah umum yang berulang di banyak lingkungan kerja
adalah kesenjangan komunikasi. Komunikasi harus dibuat jelas untuk menghindari
kebingungan. Kurangnya keterampilan komunikasi dapat menyebabkan akumulasi
pekerjaan ekstra dan membuang-buang waktu. Berbagi pekerjaan harus terjadi -
dan dalam cara yang adil juga. Ini adalah generasi di mana kerja keras dan
bekerja cerdas berjalan seiring. Karena itu, komunikasi juga merupakan aspek
penting dalam kehidupan pribadi seseorang dan pintu ini harus tetap terbuka.
Alternatif cara yang dapat membantu untuk mempertahankan pekerjaan -
keseimbangan hidup adalah perencanaan. Matriks penting-mendesak dalam hal ini
bisa menjadi alat yang berguna. Pekerjaan untuk hari harus diletakkan dalam
urutan yang jelas atas dasar kepentingan. Kerangka waktu yang diberikan untuk
setiap tujuan atau tujuan yang akan ditargetkan harus dicapai. Suatu hari yang
dilakukan tanpa perencanaan pasti berantakan.
Beberapa
perusahaan/organisasi mengadakan acara dimana anggota keluarga dari pekerja
untuk datang ke tempat kerja, diajak tur keliling pabrik atau kantor, dijamu
oleh manajemen dan diberi kesempatan untuk melihat secara persis apa yang
dilakukan oleh salah seorang anggota keluarganya ketika beraktivitas
sehari-hari di kantor. Topik kerja / keluarga dijadikan bagian dari agenda
dalam berbagai pertemuan dan dengan demikian menjadi pokok pembicaraan di
banyak organisasi. Siklus kebutuhan terus berkembang seperti kita memperoleh
lebih banyak - apa yang sebelumnya menjadi dasar kebutuhan dan kemewahan
kebutuhan. Ini adalah proses dinamis. Dalam rangka untuk memenuhi ini, kita
harus bekerja lebih keras ketika mengejar suatu tujuan akhir. Pada satu hari
kita semua hanya memiliki 24 jam - walaupun banyak banyak dari kita ingin
memiliki 48 jam dalam sehari. Jika kita punya 48, maka ada orang-orang mungkin
menginginkan 72 jam. Ini menjelaskan meluasnya lingkaran kebutuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar