Sabtu, 18 Juni 2016

MANAJEMEN STRATEGI - MENERAPKAN STRATEGI : ISU – ISU MANAJEMEN DAN OPERASI

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Menghubungkan Kinerja dan Gaji dengan Strategi
a.       Hubungan antara Kinerja dan Gaji dengan strategi  tidak memiliki keterkaitan . Karena sistem penggajian dalam perusahaan telah ditetapkan berdasarkan aturan yang telah dibuat oleh perusahaan. Tetapi dalam pemberian gaji biasanya perusahaan memberikan kompensasi kepada setiap individu didalamnya. Kompensasi sendiri berfungsi sebagai strategi  atas dasar meningkatkan  kinerja masing– masing individu diperusahaan. Perusahaan menggunakan kompensasi sebagai alat untuk mendorong tujuan tahunan maupun tujuan jangka panjang suatu perusahaan. Didalam kompensasi  terdapat bermacam – macam jenis  kompensasi yang dapat di berikan kepada setiap individu dalam perusahaan. Contoh kompensasi yang biasanya diberikan perusahaan adalah bonus atau insentif dan pembagian laba atau bagi hasil.
b.      Kriteria seperti penjualan, laba, efisiensi produksi, kualitas, dan keamanan juga bisa menjadi dasar untuk sistem bonus yang efektif. Sistem bonus dapat menjadi sebuah alat yang efektif untuk memotivasi individu guna mendukung upaya penerapan strategi. Contoh perusahaan yang memberikan sistem bonus atau insentif adalah PT. Gudang Garam Tbk. Sistem penggajian dan kompensasi telah di buat sedemikian rupa demi menunjang kinerja individu perusahaan agar meningkat setiap tahunnya.
c.       Kriteria lain yang juga digunakan untuk menghubungkan kinerja dan gaji dengan strategi adalah pembagian laba atau bagi hasil. Pembagian hasil mendorong karyawan atau departemen menetapkan target kinerja. Jika aktualnya melampaui tujuan, seluruh anggota mendapatkan bonus.
d.      Selain sistem bonus/insentif dalam kompensasi, masih banyak kombinasi berbagai insentif strategi penghargaan seperti kenaikan gaji, opsi saham, tunjangan – tunjangan karyawan, promosi, pujian, pengakuan, kritik, rasa takut, otonomi pekerjaan yang lebih besar, dan hadiah. Hal tersebut dapat digunakan untuk mendorong individu dalam perusahaan lebih bekerja keras demi penerapan strategi yang berhasil.

B.     Mengelola Resistensi terhadap Perubahan
Resistensi terhadap perubahan bisa muncul pada tingkatan mana pun dari poses penerapan strategi. Meskipun ada beberapa pendekatan untuk menerapkan perubahan, namun hanya terdapat tiga strategi yang biasa digunakan adalah:
1.      Strategi perubahan paksa
Strategi perubahan paksa (force change strategy) meliputi dikeluarkannya perintah dan kewajiban untuk menjalankan perintah tersebut. Keunggulan strategi ini terletak pada kecepatannya; sedangkan kelemahannya adalah rendahnya komitmen dan tingginya resistensi.
2.      Strategi perubahan edukatif
Strategi perubahan edukatif (educative change strategy) adalah strategi yang menyajikan informasi untuk meyakinkan orang akan perlunya perubahan. Keunggulan stategi ini yaitu menghasilkan komitmen yag lebih tinggi dan resistensi yang lebih sedikit daripada strategi perubahan paksa; sedangkan kelemahannya adalah bahwa penerapannya menjadi lebih lambat dan sulit.
3.      Strategi perubahan rasional
Strategi perubahan rasional (interest change strategy) adalah strategi yang berusaha meyakinkan individu-individu bahwa perubahan itu perlu demi keuntungan atau kepentingan pribadi mereka. Strategi perubahan rasional adalah yang paling baik, sehingga pendekatan ini lebih ditekankan pada pengguna strategi.
Jack Duncan menyatakan bahwa strategi perubahan rasional terdiri atas empat langkah yaitu:
a.       pertama, karyawan diundang untuk berpartisipasi dalam proses perubahan dan detail-detail transisi; partisipasi memungkinkan setiap orang untuk beropini; merasa menjadi bagian dari proses perubahan; dan mengidentifikasi kepentingan pribadi mereka dalam kaitannya dengan perubahan yang diusulkan.
b.      kedua, motivasi atau insentif tertentu untuk perubahan diperlukan; kepentingan sendiri atau pribadi dapat menjadi motivator yang terpenting.
c.       ketiga, komunikasi dibutuhkan sehingga orang dapat memahami tujuan atau maksud dari perubahan.
d.      keempat, memberi dan menerima umpan balik; setiap orang suka mengetahui bagaimana keadaan dan seberapa besar kemajuan yang dicapai.

C.    Mengelola Lingkungan Hidup
Manusia dikenal sebagai makhluk hidup yang berakal sehat dan pandai di dalam mengelola berbagai sumber daya. Telah berkembangnya berbagai teknologi yang bertujuan untuk memberikan berbagai macam kemudahan dari berbagai kegiatan. Contohnya adalah teknologi transportasi yang memudahkan bepergian dari satu tempat ke tempat yang lainnya tanpa terlalu banyak waktu yang terbuang. Namun, pengembangan teknologi seringkali berjalan ke arah yang berlawanan dengan keinginan untuk melestarikan lingkungan hidup. Contohnya adalah teknologi transportasi. Dengan adanya teknologi transportasi dan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, jumlah emisi gas juga ikut naik dan ini berdampak buruk bagi lingkungan.
Isu-isu lingkungan hidup mencakup penipisan ozon, pemanasan global, berkurangnya luasan hutan hujan, kerusakan habitat hewan, perlindungan terhadap spesies yang terancam punah, pengembangan produk dan pengemasan yang bisa luruh secara biologis, pengelolaan limbah, udara yang bersih, air bersih, erosi, kerusakan sumber daya alam, dan pengendalian polusi. Perusahaan-perusahaan kini dituntut untuk segera memasuki era revolusi industri hijau. Perusahaan yang mampu menciptakan dan mengembangkan produk ramah lingkungan akan diberikan label oleh lembaga sertifikasi.
Perusahaan perlu merumuskan dan menerapkan strategi dari perspektif lingkungan hidup. Strategi pengelolaan lingkungan hidup harus diterapkan dengan baik agar perubahan lingkungan hidup dapat di tahan selama mungkin dan tentunya hal ini harus dilakukan dengan disiplin yang tinggi. Pada intinya, terdapat empat jenis strategi pengelolaan lingkungan yang dapat digunakan demi lestarinya lingkungan hidup.
1.      Pengelolaan lingkungan secara rutin
2.      Perencanaan yang lebih awal dan lebih cepat didalam mengelola satu lingkungan
3.      Pengelolaan lingkungan dengan memperhitungkan dampak yang akan terjadi.
4.      Pengelolaan lingkungan untuk perbaikan.

D.    Mencipatakan Budaya yang dapat Mendukung strategi
Perusahaan gerakan oleh budaya dan setiap perusahaan beroperasi dalam sebuah budaya. Seluruh variable yang mendukung keberadaan peruhasaan terhimpun dalam satu kekuatan yang disebut budaya. Budaya perusahaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan visi dan strategi perusahaan, tapi hal ini membutuhkan campur tangan yang sangat kuat dan dominan dari pemilik, pemimpin, dan manajemen perusahaan. Agar  semua variable  pembentuk budaya tersebut dapat di arahkan sesuai visi dan misi yang di impikan.
Budaya perusahaan secara tidak langsung akan membangun komitmen untuk saling berkerjasama  mamelalui semua variable pembentuk budaya. Lalu menjadi alat yang mampu menyampaikan filosofi, untuk menjalankan semua proses kerja yang terfokuskan kepada efektifitas organisasi, melegitimasi aktivitas, memotivasi staf dan pimpinan, serta memfasilitasi semua interaksi dan komunikasi kepada stakeholder. Menurut Schein ada beberapa elemen yang bermanfaat dari hubungan budaya dan strategi sebagai berikut:
1.        Pernyataan resmi filosofi, akta pendirian, kredo, materi perusahaan uang digunakan merekrut dan menyeleksi serta sosialisasi.
2.        Mendesain ruang, serambi, dan bangunan
3.        Memberikan teladan, pengajaran dan pelatihan oleh pimpinan
4.        System kompensasi dan status juga system promosi yang tegas
5.        Kisah legenda, mitos, dan perumpamaan mengenai orang-orang serta kejadian penting
6.        Apa yang diperhatikan diukur dan dikenaikan oleh pimpinan.
7.        Reaksi pimpinan terhadap peristiwa penting dan krisis organisasi
8.        Bagaimana organisasi dirancang dan disusun
9.        System dan prosedur organisasi
10.    Kiteria yang digunakan untuk merekrut, menyeleksi, mempromosikan, mengeluarkan, memensiunkan dan mengecilkan orang.
Keberadaan budaya organisasi yang sesuai visi dan misi dan strategi perusahaan dapat mengoptimalkan efisiensi, efektifitas, keharmonisan kerja, keuntungan dan daya tahan perusahaan dalam menghadapi berbagai risiko dan rintangan.
Bila manajemen perusahaan merasakan budaya yang ada belum sesuai dengan visi, strategi dan harapan, maka manajemen dapat secara proaktif mengubah budaya organisasi yang tidak sesuai menjadi sesuai dengan arah dan alangkah. Tapi semua itu membutuhkan tindakan dan niat yang kuat untuk membangun budaya yang ideal dan kuat.
Pembentukan budaya organisasi yang kuat akan menciptakan eralitas terhadap tata kelola perusahaan yang professional. Hal ini akan  membawa efek positif terhadap daya tahan dan keunggulan perusahaan dalam menghadapi berbagai tantangan dan kompetisi.
Oleh karena itu para penyusun strategi harus berusaha keras melestarikan, menekankan dan membangun berdasarkan aspek-aspek budaya yang ada untuk membangun strategi baru yang akan diusulkan biasanya aspek-aspek budaya yang ada untuk membangun strategi baru yang akan di usulkan biasanya .Aspek-aspek budaya yang sudah ada sangat bertentangan dengan strategi baru maka budaya yang sudah ada di identifikasikan dan diubah sesuai dengan strategi yang baru.  mengubah budaya menyesuaikan dengan  strategi biasanya lebih efektif daripada mengubah strategi agar dapat sesuai dengan budaya. Jack Duncan mendeskripsikan triangulasi sebagai sebuah teknik multimetode yang efektif untuk mempelajari dan mengubah budaya perusahaan.Triangulasi mencakup kombinasi penggunaan observasi yang menonjol .kuesioner yang di selenggarakan sendiri ,dan wawancara pibadi untuk perubahan yang perlu dibuat dalam budaya sebuah perusahaan demi perusahaan strategi baru.

E. Masalah-masalah Produksi/operasi ketika menerapkan strategi
Proses produksi adalah kegiatan mengolah masukan (input, sumber daya produksi) dalam proses dengan menggunakan metode tertentu untuk menghasilkan keluaran (output, barang maupun jasa) yang sesuai dengan ketentuan.
Keputusan-keputusan yang terkait dengan produksi mengenai ukuran pabrik, lokasi pabrik, desain pabrik, pilihan peralataan, jenis peralatan, besarnya persedian, pengendalian persediaan, pengendalian mutu/kualitas, pengendalian biaya, penggunaan standar, spesialisasi pekerjaan, pelatihan karyawan, penggunaan peralatan dan sumber daya, pengiriman serta pengemasan, serta inovasi teknologi dapat memiliki dampak yang dramatis terhadap keberhasilan atau kegagalan upaya-upaya penerapan strategi.
Dalam proses produksi masih terdapat kelemahan-kelamahan dimana adanya pemborosan yang meningkatkan biaya produksi diantaranya: sumber daya produksi terlalu banyak, produksi berlebihan, persediaan terlalu banyak, investasi modal yang tak perlu.
Untuk mengurangi pemborosan-pemborosan yang terjadi diatas dilakukan dengan pendekatan Just in Time (system produksi tepat waktu) yakni sistem produksi atau sistem manajemen pabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh konsumen, sehingga dapat membantu mengurangi biaya.
Dalam system JIT suatu rangkaian proses produksi, suku cadang yang diperlukan untuk perakitan tiba pada ujung lini rakit pada waktu yang diperlukan dan hanya dalam jumlah yang diperlukan. Perusahaan yang menerapkan sistem ini pada seluruh lini produksi dapat mendekati persediaan nol.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikam sebelum menempatkan fasilitas produksi mencakup ketersediaan sumber daya utama, tingkat upah buruh di wilayah tersebut, biaya transportasi yang terkait denbgan pengiriman dan penerimaan barang, lokasi pasar-pasar besar, resiko politik di wilayah atau negara dan ketersediaan karyawan yang terlatih.
Industri seperti biogenetika dan plastik bergantung pada system produksi yang seharusnya cukup fleksibel sehingga memungkinkan perubahan yang sering  dan pengenalan produk baru yang cepat
Pada umumnya banyak organisasi mengalami masalah dalam penerapan strategi dikarenakan mereka terlalu lambat menyadari bahwa perubahan dalam strategi produk mengubah system produksi.

F. Masalah-Masalah SDM Ketika Menerapkan Strategi
Dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan, permasalahan yang dihadapi manajemen bukan hanya terdapat hanya pada bahan mentah, alat-alat kerja, mesin-mesin produksi, uang dan lingkungan kerja saja, tetapi juga menyangkut karyawan (sumber daya manusia) yang mengelola factor produksi lainnya tersebut. Karyawan baru yang belum memilii keterampilan dan keahlian dilatih, sehingga menjadi karyawan yang terampil dan ahli. Apabila dia dilatih lebih lanjut serta diberikan pengalaman dan motivasi, dia akan menjadi karyawan yang matang. Pengolahan sumber daya manusia inilah yang disebut Manajemen SDM. Tanggung jawab strategis SDM mencakup evaluasi kebutuhan dan biaya staf untuk strategi alternatif yang diusulkan selama tahap perumusan strategi dan pengembangan rencana untuk penerapan strategi yang efektif. Sistem manajemen strategis yang dirancang dengan baik bisa gagal jika tidak ada perhatian yang memadai pada dimensi SDM. Masalah-masalah sumber daya manusia yang muncul ketika bisnis menerapkan strategi biasanya dapat dilacak pada salah satu dari 3 penyebab berikut :
1.      Gangguan struktur sosial dan politik
2.      Kegagalan dalam memadukan keahlian seseorang dengan tugas-tugas penerapan
3.      Kurangnya dukungan dari manajemen puncak pada aktifitas penerapan

Salah satu fokus dalam memadukan manajer dengan strategi adalah bahwa pekerjaan itu mempunyai tanggung jawab yang spesifik dan relatif statif, walaupun dinamis dalam pengembangan kepribadian mereka.

Program Kepemilikan Saham Oleh Karyawan
Program Kepemilikan Saham Bagi Karyawan (PKSK), dalam bahasa Inggris sering disebut dengan ESOP, merupakan suatu program yang memungkinkan partisipasi karyawan untuk memiliki saham perusahaan atau induk perusahaan tempat mereka bekerja. Program ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan memberikan saham secara cuma-cuma (stock grant), menjual saham kepada karyawan, atau dengan memberikan opsi kepada karyawan untuk membeli saham perusahaan selama periode tertentu. Selain mengurangi keterasingan pekerja dan merangsang produktifitas , ESOP juga menawarkan manfaat lain bagi perusahaan , seperti penghematan pajak dalam jumlah yang substansial.
Menyeimbangkan antara kehidupan kerja dan kehidupan rumah tangga
Strategi pekerjaan/keluarga menjadi semakin populer di kalangan perusahaan karena strategi tersebut merepresentasikan sebuah keunggulan kompetitif bagi perusahaan – perusahaan yang menawarkan tunjangan seperti bantuan perawatan lansia, jam kerja yang lebih flexibel, pembagian kerja, tunjangan adopsi dll. Manajer sumber daya manusia perlu mengupayakan keseimbangan yang lebih efektif antar kehidupan profesional dan pribadi karena semakin banyak orang merupakan bagian dari keluarga di mana sang suami maupun istri bekerja. Sebuah masalah umum yang berulang di banyak lingkungan kerja adalah kesenjangan komunikasi. Komunikasi harus dibuat jelas untuk menghindari kebingungan. Kurangnya keterampilan komunikasi dapat menyebabkan akumulasi pekerjaan ekstra dan membuang-buang waktu. Berbagi pekerjaan harus terjadi - dan dalam cara yang adil juga. Ini adalah generasi di mana kerja keras dan bekerja cerdas berjalan seiring. Karena itu, komunikasi juga merupakan aspek penting dalam kehidupan pribadi seseorang dan pintu ini harus tetap terbuka. Alternatif cara yang dapat membantu untuk mempertahankan pekerjaan - keseimbangan hidup adalah perencanaan. Matriks penting-mendesak dalam hal ini bisa menjadi alat yang berguna. Pekerjaan untuk hari harus diletakkan dalam urutan yang jelas atas dasar kepentingan. Kerangka waktu yang diberikan untuk setiap tujuan atau tujuan yang akan ditargetkan harus dicapai. Suatu hari yang dilakukan tanpa perencanaan pasti berantakan.

Beberapa perusahaan/organisasi mengadakan acara dimana anggota keluarga dari pekerja untuk datang ke tempat kerja, diajak tur keliling pabrik atau kantor, dijamu oleh manajemen dan diberi kesempatan untuk melihat secara persis apa yang dilakukan oleh salah seorang anggota keluarganya ketika beraktivitas sehari-hari di kantor. Topik kerja / keluarga dijadikan bagian dari agenda dalam berbagai pertemuan dan dengan demikian menjadi pokok pembicaraan di banyak organisasi. Siklus kebutuhan terus berkembang seperti kita memperoleh lebih banyak - apa yang sebelumnya menjadi dasar kebutuhan dan kemewahan kebutuhan. Ini adalah proses dinamis. Dalam rangka untuk memenuhi ini, kita harus bekerja lebih keras ketika mengejar suatu tujuan akhir. Pada satu hari kita semua hanya memiliki 24 jam - walaupun banyak banyak dari kita ingin memiliki 48 jam dalam sehari. Jika kita punya 48, maka ada orang-orang mungkin menginginkan 72 jam. Ini menjelaskan meluasnya lingkaran kebutuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar