Kamis, 05 November 2015

PROPOSAL METODE PENELITIAN: PENGARUH TOTAL ARUS KAS, KOMPONEN ARUS KAS DAN LABA KOTOR TERHADAP HARGA SAHAM (Pada Perusahaam Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009 - 2011)

JUDUL: "PENGARUH TOTAL ARUS KAS, KOMPONEN ARUS KAS DAN  LABA KOTOR TERHADAP HARGA SAHAM  (Pada Perusahaam Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009 - 2011)"

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang sangat penting dan dibutuhkan oleh pemakai laporan keuangan eksternal maupun internal. “Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi” (IAI : 2007). Laporan  keuangan juga salah satu sarana penting bagi investor dan kreditur untuk mengetahui perkembangan perusahaan secara periodik. Karena itulah para investor perlu melakukan analisis dan prediksi atas kondisi keuangan perusahaan melalui laporan keuangan sebelum menanamkan dananya pada suatu perusahaan.
Investor dan kreditur menggunakan informasi arus kas sebagai ukuran kinerja perusahaann karena informasi tentang arus kas digunakan sebagai dasar menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan perusahaan untuk mennngunakan arus kas tersebut. “Arus kas adalah suatu laporan yang memberikan informasi yang relevan tentang pembukuan pada suatu periode tertentu dengan mengklasifikasikan transaksi pada kegiatan operasional, pembiayaan dan investasi” (Sofyan Harahap : 2006).
“Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan klasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Arus kas dari aktivitas investasi merupakan arus kas yang mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan (principal revenue-producing acticities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Arus kas dari aktivitas pendanaan merupakan arus kas yang berguna untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal perusahaan.” (PSAK : 2004). Hal ini menunjukkan bahwa laporan arus kas mempunyai kandungan informasi yang bermanfaat bagi investor, baik dari total arus kas maupun komponen arus kas.
Selain arus kas, parameter kinerja perusahaan yang mendapat perhatian utama yaitu laba. Maju mundurnya suatu perusahaan tercermin dari keuantungan yang diperoleh setiap periode. “Laba akuntansi atau penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajibab yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal” (PSAK : 2004). Dapat disimpulkan jika laba akuntansi menunjukkan ukuran tingkat pengembalian bagi para pemegang saham dan ukuran kinerja manajemen dalam keseluruhan penelitian kinerja kuangan.
Beberapa penelitian yang berhubungan dengan kandungan informasi laba akuntansi dan arus kas telah dilakukan oleh para peneliti. Dari hasil-hasil penelitian yang mengubungkan antara informasi arus kas dan laba dengan harga saham menunjukkan hasil yang kontradiktif antara peneliti yang satu dengan yang lain. Maka perlu dilakukan kembali penelitian mengenai hubungan atau pengaruh laba akuntansi, total arus kas dan komponen arus kas terhadap harga saham untuk memberikan tambahan informasi bagi investor dalam melakukan pengambilan keputusan investasi.
Dari pemaparan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Pengaruh Total Arus Kas, Komponen Arus Kas dan Laba Kotor Terhadap Harga Saham (Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009 – 2011)”.

1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka permasalah penelitian ini di rumuskan sebagai berikut :
1.    Apakah arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, arus kas dari aktivitas pendanaan berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham?
2.    Apakah laba kotor berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham?

1.3     Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan permasalahan, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk :
1.    Menganalisis pengaruh arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, arus kas dari aktivitas pendanaan yang berdampak pada harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2.    Menganalisis pengaruh laba kotor yang berdampak pada harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.4     Manfaat Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan permasalahan, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1.    Bagi para investor penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsi dalam menganalisis komponen arus kas dan laba rugi yang digunakan sebagai alat pertimbangan dalam pengembilan keputusan melakukan investasi.
2.    Bagi perusahaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga untuk mengelola arus kas dan laba perusahaan dalam kaitannya dengan peningkatan harga saham.
3.    Bagi peneliti yang concern dan pembaca penelitian ini juga diharapkan dapat berguna sebagai bahan referensi penelitian berikutnya dan dapat menambah pengetahuan tentang akuntansi khususnya komponen laba dan arus kas dan pengaruhnya terhadap harga saham.

1.5     Batasan Masalah
Melihat permasalahan yang dihadapi dan keterbatasan kemampuan peneliti, maka peneliti melakukan pembatasan masalah sebagai berikut:
1.    Perusahaan yang menjadi objek penelitian merupakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2009 – 2011.
2.    Laba yang digunakan disini adalah laba kotor/gross profit.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1     Penelitian Terdahulu
Hardian Hariono Sinaga (2010) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Total Arus Kas, Komponen Arus Kas, Laba Akuntansi Terhadap Return Saham”. Data yang digunakan diperoleh dari Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan sample perusahaan-perusahaan yang masuk dalam indeks LQ-45 selama tahun 2006 - 2008. Hasil pengujian diperoleh bahwa ada pengaruh yang signifikan dan negatif antara arus kas operasional terhadap expected return saham secara parsial yaitu tidak ada pengaruh yang signifikan antara arus kas investasi terhadap expected return saham secara parsial, tidak ada pengaruh yang signifikan antara arus kas pendanaan terhadap expected return saham secara parsial, ada pengaruh yang signifikan dan positif antara laba kotor terhadap expected return saham secara parsial; dan ada pengaruh yang signifikan dan positif antara ukuran perusahaan (size) terhadap expected return saham secara parsial.
Novy Budi Adiliawan (2010) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Arus Kas dan Laba Kotor Terhadap Harga Saham”. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan sampel sebanyak 62 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2007 sampai 2009. Hasil dari penelitian ini menunjukkan variabel arus kas dari aktivitas operasi secara positif dan signifikan mempengaruhi harga saham dengan sig. t sebesar 0,002 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan jika arus kas operasi berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
Rutmayanti (2009) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Informasi Komponen Arus Kas dan Laba Kotor Perusahaan Terhadap Expected Return Saham”. Saham yang diteliti adalah saham-saham yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) secara konsisten tahun 2005 sampai 2007. Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap expected return saham adalah perubahan arus kas operasi dengan sig. t sebesar 0,013 < 0,05, perubahan arus kas investasi dengan sig. t sebesar 0,002 < 0,05, sedangkan variabel yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap expected return saham adalah perubahan arus kas pendanaan dengan sig. t sebesar 0,198 > 0,05 dan perubahan laba kotor dengan sig. t sebesar 0,781 > 0,05. Sedangkan sig. F sebesar 0,022 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa keempat variabel secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap expected return saham.
Vicky Oktavia, S.E. (2008) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Total Arus Kas, Komponen Arus Kas dan Laba Akuntansi Terhadap Harga di Bursa Efek Jakarta”. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sample perusahaan-perusahaan yang masuk dalam indeks LQ-45 selama tahun 2002 – 2004. Tercatat 58 perusahaan menjadi anggota populasi, namun hanya 19 perusahaan yang digunakan sebagai sample karena secara konsisten telah empat kali berturut-turut masuk dalam perhitungan indeks LQ-45. Hasil penelitian ini adalah total arus kas dan laba akuntansi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Dari persamaan regresi diperoleh hasil bahwa laba akuntansi mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan total arus kas terhadap harga saham.
Kaitan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama membahas tentang hubungan arus kas dan laba sebagai variabel independent. Sedangkan perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian terhadulu adalah :
1.      Penelitian sekarang meneliti tentang pengaruh total arus kas, komponen arus kas dan laba kotor terhadap harga saham. Sedangkan penelitian terdahulu meneliti tentang pengaruh total arus kas, komponen arus kas dan laba kotor terhadap return saham. Adapun yang meneliti pengaruhnya terhadap harga saham tetapi di periode yang berbeda yaitu selama tahun 2002 – 2004.
2.      Objek dan waktu penelitian sekarang adalah laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009 – 2011. Sedangkan penelitian terdahulu diantaranya: di Bursa Efek Jakarta dengan perusahaan yang masuk dalam indeks LQ-45 selama tahun 2002 – 2004 dan 2006 – 2008, perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 – 2009, saham-saham yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) secara konsisten tahun 2005 – 2007.

2.2     Literatur Review
2.2.1 Teori Agensi
Teori agensi merupakan teori yang digunakan perusahaan dalam mendasari praktik bisnisnya. “Teori keagenan disebut juga sebagai teori kontraktual yang memandang suatu perusahaan sebagai suatu perikatan kontrak antara anggota-anggota perusahaan. Hubungan keagenan adalah sebagai suatu kontrak antara satu atau lebih pihak yang mempekerjakan pihak lain untuk melakukan suatu jasa untuk kepentingan mereka yang meliputi pendelegasian beberapa kekuasaan pengambilan keputusan kepada pihak lain tersebut.” (Jensen dan Meckling : 1976). Dengan demikian, teori ini mengindikasikan adanya kepentingan pada setiap pihak yang ada di perusahaan untuk mencapai tujuan.
Pihak yang berkepentingan tersebut adalah pemegang saham sebagai prinsipal dan manajer perusahaan sebagai agen. Agen harus melakukan tugas yang diberikan oleh prinsipalnya sebagai tanggung jawab jasanya. Prinsipal diasumsikan hanya tertarik pada pengembalian uang yang diperoleh dari investasi mereka pada perusahaan. Sedangkan agen diasumsikan akan menerima kepuasan tidak hanya dari kompensasi keuangan tetapi juga dari tambahan lain yang terlibat dalam hubungan keagenan (Anthony dan Govindarajan : 2005).

2.2.2  Komponen Arus Kas
 “Laporan arus kas (statement of cash flow) menjelaskan perubahan pada kas atau setara kas (cash equivalent) dalam periode tertentu.” (Earl K. Stice : 2004). “Laporan arus kas adalah melaporkan penerimaan kas, pembayaran kas dan perubahan bersih pada kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan selama satu periode.” (J. Weygandt : 2008). “Laporan arus kas (statement of cash flows) melaporkan arus kas masuk dan arus kas keluar utama dari sebuah perusahaan selama periode tertentu.” (James M. Reeve : 2010).
Sehingga dapat dijelaskan bahwa laporan arus kas adalah laporan yang menyajikan ringkasan halaman tentang hasil dari aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan perusahaan selama satu periode. Laporan arus kas sebagai alat yang sempurna untuk menganalisis aktivitas operasi, investasi dan pendanaan agar dapat dijalankan dengan konsisten.
2.2.1.1  Arus Kas dari Aktivitas Operasi
“Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan (principal revenue activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan pendanaan, umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih, dan merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasi perusahaan dapat menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan” (Daniati : 2006). Menurut standar akuntansi keuangan di Indonesia (IAI : 2007) aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitaas operasi merupakan indicator yang menentukan apakah operasi perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemempuan operasi perusahaan, membayar dividen, dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi antara lain :
a. Penerimaan kas dari penjualan, royalti,  fees, komisi dan pendapatan lain
b. Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa dan karyawan
c. Penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi

2.2.1.2 Arus Kas dari Aktivitas Investasi
“Aktivitas investasi adalah aktivitas yang menyangkut perolehan atau pelepasan aktiva jangka panjang (aktiva tidak lancar) serta investasi lain yang tidak termasuk dalam setara kas, mencakup aktivitas meminjamkan uang dan mengumpulkan piutang tersebut serta memperoleh dan menjual investasi dan aktiva jangka panjang produktif” (Daniati : 2006). Menurut standar akuntansi Keuangan di Indonesia (IAI : 2007) aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.
Arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perlu dilakukan pengungkapan terpisah karena arus kas tersebut mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah :
a. Pembelian dan penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan dan peralatan, serta aset tidak berwujud dan aset jangka panjang lain
b. Perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain
c. Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta pelunasannya (kecuali yang dilakukan oleh lembaga keuangan)
d. Pembayaran kas sehubungan dengan futures contracts, forward contracts, option contracts, dan swap contracts kecuali apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or trading), atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.

2.2.1.3 Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Menurut standar akuntansi keuangan di Indonesia (IAI : 2007) aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan. Arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan perlu dilakukan pengungkapan terpisah karena berguna untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal perusahaan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah :
a. Penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal lainnya.
b. Pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan. 
c. Pelunasan pinjaman.
d. Pembayaran kas oleh penyewa (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa pembiayaan (finance lease).'

2.2.3 Laba Kotor / Gross Profit
“Laba tidak memiliki definisi yang menunjukkan makna ekonomi, seperti halnya elemen laporan keuangan yang lain. Oleh karena itu, konsep laba masih menjadi subyek perbedaan interpretasi dan perdebatan” (Anis Chariri dan Imam Ghozali : 2007). Laba kotor adalah laba yang diperoleh dari hasil penjualan bersih dikurangi dengan harga pokok penjualan (HPP). Laba kotor menyediakan angka yang berguna untuk mengevaluasi kinerja perusahaan dan menilai laba masa depan (Kieso : 2002).
Laba dapat dijadikan ukuran untuk menilai keberhasilan perusahaan. Pengukuran terhadap laba tidak akan memberikan informasi yang bermanfaat bila tidak menggambarkan sebab-sebab timbulnya laba. Sumber penyebab timbulnya laba memiliki peranan penting dalam menilai kemajuan perusahaan.
2.2.4 Harga Saham
Menurut pasal 1 Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 mendefinisikan Bursa efek sebagai pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan system dan/atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek.
“Saham adalah tanda bukti memiliki perusahaan dimana pemiliknya disebut sebagai pemegang saham (shareholder atau stockholder)” (Samsul : 2006). Sedangkan harga saham adalah harga suatu saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal (Jogiyanto  : 2008). Bukti bahwa seseorang atau suatu pihak dapat dianggap sebagai pemegang saham adalah apabila mereka sudah tercatat sebagai pemegang saham dalam buku yang disebut Daftar Pemegang Saham (DPS). Bukti bahwa seseorang adalah pemegang saham juga dapat dilihat pada halaman belakang lembar saham apakah namanya sudah diregistrasi oleh perusahaan (emiten) atau belum.
Harga pasar (market price) adalah harga yang sedang berlaku di pasar. Nilai pasar saham adalah harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung di bursa efek. Apabila bursa efek telah tutup maka harga pasar adalah harga penutupannya (clossing price). Untuk mendapatkan jumlah nilai pasar (market value) suatu saham yaitu dengan mengalikan harga pasar dengan jumlah saham yang dikeluarkan (Sunariyah, 2004). Biasanya pergerakan harga saham disajikan setiap hari, berdasarkan harga penutupan di bursa pada hari tersebut.
2.3     Hipotesis
Hipotesis dapat didefinisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji (Uma Sekaran : 2006). Hubungan tersebut diperkirakan berdasarkan jaringan asosiasi yang ditetapkan dalam kerangka teoritis yang dirumuskan untuk studi penelitian.
H1:        Arus kas dari aktivitas operasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham.
H2:        Arus kas dari aktivitas investasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham.
H3:        Arus kas dari aktivitas pendanaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham.
H4:        Laba kotor berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham.
H5:        Arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, arus kas dari aktivitas pendanaan, dan laba kotor secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1     Jenis Penelitian
Sturktur penelitian adalah dengan menggunakan exploratory study, yaitu stuktur tidak ketat, tujuan untuk menemukan tugas untuk penelitian selanjutnya. Sedangkan untuk pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan data sekunder melalui observasi dan dokumentasi laporan keuangan yang didapatkan dari Bursa Efek Penelitian periode 2009 – 2011. Dengan tujuan penelitian causal study untuk membuktikan pengaruh total arus kas, komponen arus kas dan laba terhadap harga saham.
Variabel adalah karakteristik dari unit observasi (individu, group, organisasi, perusahaan, instansi, kejadian, aktifitas, dan lainnya) yang bisa diukur dan dinilai bervariasi diantara unit-unit yang diobservasi tersebut. Variabel biasanya merupakan simbol yang digunakan oleh peneliti untuk menempatkan angka (numerals) atau nilai (values). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel independen dan dependen. Variabel independennya adalah total arus kas, komponen arus kas dan laba. Sedangkan variabel dependennya adalah harga saham.

3.2     Operasional Konsep
Variabel perlu diidentifikasi, diklarifikasi dan didefinisikan secara operasional dengan jelas dan tepat agar tidak menimbulkan kesalahan dalam pengumpulan dan pengolahan data. Adapun definisi operasional variabel adalah sebagai berikut:
1.    Total arus kas sebagai variabel independen
Total Arus kas operasi pada penelitian ini diproksi menggunakan total selisih antara arus kas operasi, arus kas investasi dan arus kas pendanaan.
TOTCF = CFO + CFI + CFP
2.    Komponen arus kas sebagai variabel independen
a.    Arus kas operasi pada penelitian ini diproksi menggunakan selisih antara arus kas operasi masuk dengan arus kas operasi keluar.
CFO = CFO Masuk – CFO Keluar
b. Arus kas investasi pada penelitian ini diproksi menggunakan selisih antara arus kas investasi masuk dengan arus kas investasi keluar.
CFI = CFI Masuk – CFI Keluar
c. Arus kas operasi pada penelitian ini diproksi menggunakan selisih antara arus kas pendanaan masuk dengan arus kas pendanaan keluar.
CFP = CFP Masuk – CFP Keluar
3.    Laba sebagai variabel independen
Laba akuntansi pada penelitian diproksi menggunakan Laba Bersih Setelah Pajak.
EAT = Earning - Tax
4.    Harga saham sebagai variabel dependen
Harga saham menurut fungsinya dibagi menjadi 3 yaitu nialai nominal, nilai dasar dan nilai pasar. Harga saham yang digunakan adalah rata-rata harga saham penutupan (closing price) per 31 Desember 2009 – 2010.

3.3       Objek Penelitian
Penelitian akan difokuskan pada uji pengaruh total arus kas, komponen arus kas dan laba terhadap harga saham. Objek penelitian adalah laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009 – 2011.

3.4     Jenis Data, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang pengupulannya sudah dilakukan sebelumnya oleh peneliti terdahulu/organisasi/perusahaan dalam bentuk laporan keuangan.
Sumber data untuk mendapatkan data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini adalah melalui dokumentasi laporan keuangan perusahaan manufaktur periode 2009 – 2011 yang terdaftar dan didapatkan di Bursa Efek Indonesia.
Adapun teknik pengumpulan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Observasi
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian. Observasi yang dilakukan untuk mengamati dan mengetahui laporan keuangan  yang ada di perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009 – 2011.
2.  Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara melihat dan menggunakan laporan-laporan dan catatan yang ada di perusahaan yang masuk dalam sampel penelitian. Dokumentasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dokumentasi laporan-laporan keuangan keuangan  yang ada di perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009 – 2011, yaitu dengan menggunakan sampel sebanyak 20 perusahaan.
Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti. Sampel diperlukan untuk melakukan pendugaan/penyimulan atas karakteristik keseluruhan populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang ditetapkan peneliti. Kriteria pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2009, 2010 dan 2011 secara konsisten.
2.    Perusahaan manufaktur yang memiliki data closing price lengkap dan tidak memiliki saham prefern.
3.    Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan keuangan auditan selama periode pengamatan yang dinyatakan dalam mata uang rupiah, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih dapat dipercaya.

3.5     Teknik Analisis Data
Teknik penganalisisaan data yang digunakan adalah statistical data analysis yaitu analisis regresi linier berganda yang diperlukan untuk menguji hipotesis mencari pengaruh total arus kas, komponen arus kas dan laba akuntansi terhadap harga saham. Data hasil perhitungan dengan menggunalan komputer dengan program SPSS.
Teknik analisa data regresi linier berganda dengan menggunakan :
1.      Mendeskripsikan data berdasarkan hasil identifikasi dan klasifikasi data yang diperoleh.
2.      Deskriptif statistik
3.      Uji asumsi klasik untuk regresi normalitas data. Menurut Priyatno (2010 : 71) uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi data yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak.
4.      Uji hipotesis dengan regresi uji F, uji R, uji T. Dengan menggunakan pedoman jika F tidak signifikan, maka pengujian R dan T tidak diperlukan.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar