Contoh Analisis Rasio
Analisis laporan keuangan PT. Eatertainment
International Tbk tahun 2010 & 2011 menggunakan Analisis
Ratio. Ada tujuh area penting analisis laporan keuangan yaitu:
1. Rasio Likuiditas
NAMA
|
2011 (Rp)
|
2010 (Rp)
|
Rasio Lancar :
|
= 541,68 %
|
= 487,17 %
|
Rasio Cepat :
|
= 434,9
%
|
= 422,1 %
|
Jumlah Hari Untuk
menjual persediaan :
|
= 24,2
|
|
2.
Rasio Solvabilitas
Rumus
|
2011 (Rp)
|
2010 (Rp)
|
ADR :
|
= 197,95
%
|
= 183,83
%
|
DER :
|
=
281,02%
|
= 275,12 %
|
3.
Rasio Profitabilitas
Rumus
|
2011 (Rp)
|
2010 (Rp)
|
Rentabilitas Ekonomi :
|
= -7,98 %
|
= 5,87
%
|
ROI :
|
= -3,21 %
|
= 2,35
%
|
4.
Rasio Posisi Aktivitas Perusahaan
Rumus
|
2011 (Rp)
|
2010 (Rp)
|
WTC :
|
= 3,07
|
= 2,61
|
CT :
|
= 4,74
|
= 3,31
|
ART :
|
= 181,03
%
|
|
IT :
|
= 23,03
|
= 23,13
|
5.
Pemanfaatan Aset
Rumus
|
2011 (Rp)
|
Perputaran kas
:
|
= 40,23
|
Perputaran Piutang usaha :
|
= 9,15
|
Perputaran Persediaan
:
|
= 14,80
|
Perputaran Total Aset :
|
= 1,56
|
6.
Kinerja Operasi
Rumus
|
2011 (Rp)
|
2010 (Rp)
|
Margin Laba Kotor :
|
= 37,63
%
|
= 37,58 %
|
Margin Laba
Bersih :
|
= 2,72
%
|
= -3,5 %
|
7.
Ukuran Pasar
Rumus
|
2011 (Rp)
|
2010 (Rp)
|
Rasio Harga terhadap
laba :
|
= 12,5
|
= 17,86
|
Hasil Laba
:
|
= -8
%
|
= 5,6
%
|
Analisis terhadap hasil perhitungan Rasio :
1. Likuiditas
Likuiditas perusahaan adalah kemapuan perusahaan untuk mengembalikan
seluruh hutang lancarnya yang harus segera dilunasi dengan aktiva lancar yang
lebih likuid.
Hasil dari perhitungan pada tahun 2010 dan 2011 menunjukkan angka
yang sangat tinggi diatas 400% maka perusahaan dikatan likuid. Hal ini berarti
aktiva lancarnya 4 kali lipat dari hutang lancarnya atau setiap Rp 1 hutang
lancar dijamin oleh Rp 4 asset lancar. Sementara itu kemampuan perusahaan untuk
membayar utang lancarnya dengan menggunakan kas atau setara kas sangat besar,
hal ini ditunjukkan pada tingginya hasil perhitungan dari rasio cepat yaitu di
atas 400%. Artinya hanya menggunakan kas dan setara kas sudah dapat menjamin
setiap Rp 1 utang lancer dengan Rp 4 kas dan setara kas. Sementara itu
kemampuan perusahaan untuk menjual persediaan sangat tinggi. Untuk menjual
persediaan sebesar Rp 989.182.885 hanya membutuhkan kurang lebih 24 hari.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat likuiditas
perusahaan atau kemapuan perusahaan untuk mengembalikan hutang lancarnya dengan
aktiva lancar sangat tinggi yaitu sekitar 400% - 450 %.
2.
Solvabilitas
Solvabilitas adalah rasio untuk mengetahui sejauh mana perusahaan
dibiayai oleh hutang. Artinya berapa besar beban hutang yang ditanggung oleh
perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.
Hasil perhitungan pada Debt to Asset Ratio menunjukkan angka yang
sangat tinggi di atas 100% dan dari tahun 2010 ke tahun 2011 menngkat dari
183,83% menjadi 197,95 %. Angka ini menunjukkan bahwa pembiayaan perusahaan
hamper seluruhnya dibiayai dari hutang dan pinjaman, setiap Rp 200 pendanaan
perusahaan dibiayai oleh hutang Rp 197,95.
Demikian pula perhitungan pada Debt to Equity Ratio juga menunjukkan
angka yang sangat besar. Rasio ini pada tahun 2010 menunjukkan angka 275,12 %
artinya kreditur menyediakan Rp 275,12 untuk setiap Rp 300 yang disediakan
pemegang saham. Demikian pula pada tahun 2011 menunjukkan 281,02 %
artinya kreditur menyediakan Rp 281,02 untuk setiap Rp 300 yang disediakan
pemegang saham.
Dari perhitungan diatas terlihat bahwa sebagaian besar pembiayaan
perusahaan bersumber dari kreditur Artinya kemungkinan perusahaan untuk
mendapatkan tambahan pinjaman semakin kecil karena dikhawatirkan perusahaan
tidak mampu untuk mengembalikan pinjaman.
3.
Profitabilitas
Dari perhitungan ROI menunjukkan tingkat penurunan yang sangat besar
yaitu dari 2,35 % pada tahun 2010 menjadi -3,21 % pada tahun 2011 artinya
perusahaan tidak mampu dalam memanfaatkan aktiva untuk memperoleh ROI.
Dari perhitungan rentabilitas ekonomi terlihat bahwa pada tahun 2010
kemampuan perusahaan untuk mengasilkan laba dari modal usaha cukup tinggi yaitu
sebesar 5,87 % sedangkan menurun pada tahun 2011 hingga -7,98 % artinya
perusahaan tidak bisa mempertahankan tingkat pengembalian modal dan tidak mampu
memanfaatkan asset yang begitu besar.
4.
Posisi Aktiva Perusahaan
Tingkat pengembalian modal, Kas, dan Persediaan terbilang relative
stabil dan mengalami peningkatan dari tahun 2010 ke tahun 2011. Meskipun
demikian tingkat pengembalian tersebut terbilang cukup rendah dan dibawah
standar. Artinya tingkat pengembalian tersebut masih sangat rendah jika melihat
dari standar normal untuk Capital turnover, Cash Turnover dan Inventory
Turnover. Sehingga perusahaan masih harus berusaha untuk meningkatkan tingkat
pengembalian tersebut.
Meskipun demikian tingkat pengembalian terhadap piutang menunjukkan
angka yang cukup tinggi yaitu sekitar 98,55%. Hal ini berarti bahwa tingkat
pengembalian dari piutang perusahaan mencapai angka 98,55% dari piutang usaha.
5.
Pemanfaatan Asset
Perputaran kas pada perusahaan ini menunjukkan angka yang besar
yaitu 40,23 artinya kas tidak terlalu banyak yang menganggur dan pemanfaatannya
cukup besar. Meskipun demikian terdapat angka yang sangat kecil terhadap
pemanfaatan Piutang usaha, persediaan, dan total asset. Angka yang ditunjukkan
terbilang sangat kecil tidak sampai 20 %. Hal ini terbukti dengan adanya
penurunan tingkat profitabilitas perusahaan yang sangat besar.
6.
Kinerja Operasi
Margin laba kotor menunjukkan angka yang cukup besar namun
peningkatan dari tahun 2010 ke tahun 2011 tidak terlalu berpengaruh. namun
tingkat margin laba kotor perusahaan tersebut yang menunjukkan angka yang cukup
besar tidak diikuti dengan peningkatan Margin Laba bersih, akan tetapi terjadi
penurunan yang sangat besar yaitu dari 2,72% turun menjadi -3,5%. Artinya
perusahaan belum mampu mengendalikan biaya dan memanfaatkan asset
sebaik-baiknya.
7.
Ukuran pasar
Rasio harga terhadap laba menunjukkan penurunan dari tahun 2010 ke
tahun 2011. Hal ini dikarenakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan ROI
sangat rendah, sehinggah tidak terjadi peningkatan terhadap laba per lembar
saham. Hasil laba pun akhirnya ikut menurun sangat jauh. Hal ini tentu saja
akan menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi para pemegang saham dalam
mengambil keputusan untuk berinvestasi bahkan ada kecenderungan untuk takut
menanamkan modalnya pada perusahaan seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar