BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Saat
sekarang ini untuk memilih lokasi yang strategis sangatlah tidak mudah, butuh
lokasi yang tepat dan sesuai agar usaha rumah makan yang kita buat bisa
diterima oleh konsumen, maka dari itu diperlukan suatu sistem yang dapat
memperhitungkan segala kriteria yang mendukung dalam pengambilan keputusan.
Metode yang dipakai dalam pengambilan keputusan untuk menentukan lokasi rumah
makan ini adalah metode FMADM (Fuzzy
Multiple Attribute Decission Making).
Metode ini memberikan niali bobot untuk setiap atribute, kemudian dilanjutkan
dengan proses perangkingan yang akan menyeleksi akternatif terbaik dari
sejumlah alternatif, dalam hal ini alternatif yang dimaksud adalah lokasi yang
strategis untuk membangunan rumah makan berdasarkan kriteria-kriteria yang
ditentukan. Metode ini memiliki tingkat akurasi yang cukup
tinggi, mudah dalam pemrograman, dan cepat dalam proses pelatihan dan
klasifikasi.
Dengan
adanya sistem pendukung keputusan untuk menentukan lokasi rumah makan ini,
diharapkan dapat mempermudah pengambilan keputusan untuk menentukan lokasi
rumah makan yang strategis yang akan dijadikan untuk tempat usaha.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalah yang akan diselesaikan yaitu
bagaimana merancang sebuah sistem pendukung keputusan dengan menggunakan Fuzzy
MADM dengan metode SAW (simple additive weighting) untuk menentukan
lokasi mana yang paling strategis untuk pembangunan rumah makan berdasarkan
bobot dan kriteria yang sudah ditentukan. Dengan menggunakan sebuah program
microsoft office untuk menyelesaikan permasalahan sehingga jauh lebih mudah dan
efisian.
1.4 TUJUAN PENELITIAN
Tujuan
penelitian ini adalahmembangun suatu model pengambilan keputusan dengan
menggunakan Fuzzy MADM dengan metode SAW untuk menentukan lokasi paling
strategis untuk pembangunan rumah makan berdasarkan bobot dan kriteria yang
sudah ditentukan
1.3 RUANG LINGKUP PEMBAHASAN
Dalam
penelitian ini ruang lingkup pembahasan mencakup yaitu:
a. Pengambilan
keputusan pada sistem ini berdasarkan pembobotan data lokasi yang telah ada
dengan karakteristik yang telah ditentukan.
b. Aplikasi
ini hanya untuk menentukan pemilihan lokasi atau tempat usaha dan tidak
melayani transaksi penjualan/penyewaan tempat lokasi.
c. Data
kepadatan penduduk di ambil berdasarkan per-kecamatan, dengan pertimbangan
jarak tempuh satu kecamatan yang tidak terlalu jauh.
d. Asumsi
harga lokasi berdasarkan luas tanah 25x25m, asumsi bangunan luas rumah makan
adalah 20x20m, satu lantai, desain tidak terlalu mewah.
e. Dalam
penelitian ini penulis hanya mengambil sampel lokasi di Jalan Gajah Mada Batu –
Malang, Jalan SoekarnoHatta – Malang, Jalan Ahmad Yani Pare – Kediri, Jalan Ir. H. Juanda – Sragen, Jalan
Cokroaminoton – Yogjakarta.
BAB 2
DASAR TEORI
2.1 SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN (DECISION SUPPORT
SYSTEM)
Menurut Kusrini
(2007), Sistem Pendukung Keputusan merupakan sistem informasi yang menyediakan
informasi, pemodelan dan pemanipulasian data. Definisi lain Sistem pendukung
keputusan adalah sistem tambahan, mampu untuk mendukung analisis data secara ad
hoc dan pemodelan keputusan serta berorientasi pada perencanaan masa depan.
Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa sistem
pendukung keputusan (DSS) adalah suatu sistem informasi yang menggunakan
model-model keputusan, basisdata, dan pemikiran manajer sendiri, proses
modeling interaktif dengan komputer untuk mencapai pengambilan keputusan oleh manajer tertentu
2.1.1
Komponen-komponen dalam sistem
pendukung keputusan
Menurut Sudiyantoro
(2005), komponen-komponen dalam sistem pendukung keputusan meliputi 8 bagian
yaitu
a.
Hardware Resourches
Pusat
pelaksana ini saling berhubungan dengan komputer lain menggunakan sistem
jaringan, sehingga memudahkan dalam pengambilan data pada organisasi tersebut.
b.
Software Resourches
Perangkat lunak sistem
pendukung keputusan sering disebut juga dengan Decision Support System
Generator, yang berisi modul-modul untuk database, model dan
dialogue management.
c.
Sumber Data
Database sistem
pendukung keputusan berisi data dan informasi yang diambil dari data
organisasi, data eksternal dan data para manajer secara individu. Itu
semua merupakan ringkasan data yang akan diperlukan para manajer dalam mengambil
keputusan.
e.
Sumber Model
Model ini berisi
kumpulan model matematika dan teknik analisis yang disimpan kedalam
program dan file yang berbeda-beda. Komponen dari model ini dapat
dikombinasikan atau dipadukan dengan software tertentu untuk mendukung
sebuah keputusan yang akan diambil.
f.
Sumber Daya Manusia
Sistem
Pendukung Keputusan dapat digunakan oleh para manajer dan staf khusus untuk
membuat keputusan alternative. Sistem pendukung keputusan ini juga dapat
dikembangkan oleh penggunanya sesuai dengan keperluan para pengguna tersebut.
g.
Model Sistem Pendukung Keputusan
Model merupakan
komponen yang sangat penting dalam sistem pendukung keputusan. Model memiliki
pengertian yang secara sederhana berarti memisahkan dari dunia nyata dengan
melukiskan komponen utama dan menghubungkannya dengan sistem dan kejadian
lainnya.
h.
Electronic Spreadsheet
Lembar kerja elektronik
memperbolehkan pengguna untuk membuat model dengan cara mengisi data dan
menghubungkannya sesuai dengan format yang telah disediakan. User juga
dapat melakukan beberapa perubahan dan mengevaluasi secara visual hasil
yang telah didapat, seperti mengganti tampilan grafik.
i.
Sistem Pendukung Keputusan Kelompok
Merupakan suatu
sistem berbasis komputer yang mendukung kelompok-kelompok orang yang terlibat
dalam suatu tugas atau tujuan bersama dan menyediakan interface bagi
suatu lingkungan yang digunakan bersama.
2.1.2
Tujuan dari sistem pendukung keputusan
adalah sebagai berikut:
a. Membantu manajer dalam pengambilan keputusan
atas masalah semi-terstruktur.
b. Memberikan dukungan atas pertimbangan manajer
dan bukannya dimaksudkan untuk menggantikan fungsi manajer.
c. Meningkatkan efektivitas keputusan yang
diambil manajer lebih daripada perbaikan efisiensinya.
d. Kecepatan komputasi
Komputer memungkinkan
para pengambil keputusan untuk melakukan banyak komputasi secara cepat dengan
biaya yang rendah.
e.
Peningkatan produktivitas
Membangun satu
kelompok pengambil keputusan, terutama para pakar, bisa sangat mahal.vPendukung
terkomputerisasi bisa mengurangi ukuran kelompok dan memungkinkan para
anggotanya untuk beradavdiberbagai lokasi yang berbeda-beda (menghemat biaya
perjalanan). Selain itu, produktivitas staf pendukung (misalnya analisis
keuangan dan hukum) bisa ditingkatkan. Produktivitas juga bisa ditingkatkan
menggunakan peralatan optimalisasi yang menentukan cara terbaik untuk
menjalankan sebuah bisnis.
2.1.3
Keputusan sistem pendukung keputusan
Menurut Kusrini
(2007), keputusan yang diambil untuk menyelesaikan suatu masalah dilihat dari
struktur masalahnya terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu :
a.
Keputusan tersturktur (structured
Decision)
Keputusan yang
dilakukan secara berulang-ulang dan bersifat rutin. Prosedur pengambilan
keputusan sangatlah jelas. Keputusan tersebut terutama dilakukan pada manajemen
tingkat bawah. Misalnya, keputusan pemesanan barang dan keputusan penagihan
piutang.
b.
Keputusan semi terstrukutr
Keputusan yang memiliki
dua sifat. Sebagian keputusan bisa ditangani oleh komputer dan yang lain tetap
harus dilakukan oleh pengambil keputusan. Prosedur dalam pengambilan keputusan
tersebut secara garis besar sudah ada, tetapi ada beberpa hal yang masih
memerlukan kebijakan dari pengambil keputusan. Biasanya keputusan semacam ini diambil
oleh manajer level menegah dalam suatu organisasi. Contoh keputusan jenis ini
adalah pengevaluasian kredit, penjadwalan produksi dan pengendalian persediaan.
c.
Keputusan tak terstruktur
Keputusan yang
penanganannya rumit karena tidak terajadi berulang-ulang atau tidak selalu
terjadi. Keputusan tersebut menurut pengalaman dan berbagai sumber yang
bersifat eksternal. Keputusan tersebut umumnya terjadi pada manajemen tingkat
atas. Contohnya adalah keputusan untuk pengembangan teknologi baru, keputusan
untuk bergabung dengan perusahaan lain dan perekrutan ekesekutif.
|
STRUKTUR
KEPUTUSAN
|
Manajemen
Operasi
|
Manajemen
Taktis
|
Manajemen
Strtategis
|
|
Tidak
Terstruktur
|
Pengelolaan
Kas
|
Rekayasa
Ulang Proses Bisnis
|
Perencanaan
Bisnis Baru
|
|
Semi
Terstruktur
|
Manajemen
Kredit
|
Capital
Budgeting
|
Perencanaan
Prodeuk
|
|
Terstruktur
|
Inventory
Control
|
Program
Control
|
-
|
Gambar 1. Struktur keputusan DSS
2.2 FMADM (Fuzzy Multiple Attribute Decision Making)
Fuzzy Multiple
Attribute Decision Making FMADM adalah suatu metode yang
digunakan untuk mencari alternatif optimal dari sejumlah alternatif
dengan kriteria tertentu. Inti dari FMADM adalah menentukan nilai bobot
untuk setiap atribut, kemudian dilanjutkan dengan proses perankingan yang
akan menyeleksi alternatif yang sudah diberikan.
Pada dasarnya,
ada 3 pendekatan untuk mencari nilai bobot atribut, yaitu pendekatan subyektif,
pendekatan obyektif dan pendekatan integrasi antara subyektif & obyektif.
Masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kelemahan. Pada pendekatan
subyektif, nilai bobot ditentukan berdasarkan subyektifitas dari para pengambil
keputusan, sehingga beberapa faktor dalam proses perankingan alternatif bisa
ditentukan secara bebas. Sedangkan pada pendekatan obyektif, nilai bobot
dihitung secara matematis sehingga mengabaikan subyektifitas dari pengambil
keputusan. ( Kusumadewi, 2007).
Ada beberapa metode
yang dapat digunakan untuk mnyelesaikan masalah FMADM. antara lain (Kusumadewi,
2006):
a. Simple Additive
Weighting Method (SAW)
b. Weighted Product
(WP)
c. ELECTRE
d. Technique for
Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
e. Analytic
Hierarchy Process (AHP)
Langkah penyelesaian FMADM adalah:
Dalam penelitian ini
menggunakan FMADM metode SAW. Adapun langkah-langkahnya adalah:
1.
Menentukan kriteria-kriteria yang akan
dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan, yaitu Ci.
2.
Menentukan rating kecocokan setiap
alternatif pada setiap kriteria.
3.
Membuat matriks keputusan berdasarkan
kriteria (Ci), kemudian melakukan normalisasi matriks berdasarkan persamaan
yang disesuaikan dengan jenis atribut (atribut keuntungan ataupun atribut
biaya) sehingga diperoleh matriks ternormalisasi R.
4.
Hasil akhir diperoleh dari proses
perankingan yaitu penjumlahan dari perkalian matriks ternormalisasi R dengan
vektor bobot sehingga diperoleh nilai terbesar yang dipilih sebagai alternatif
terbaik (Ai) sebagai solusi.
2.3 METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING METHOD (SAW)
Metode
SAW sering juga dikenal istilah metode penjumlahan terbobot. Konsep dasar
metode SAW adalah mencari penjumlahan terbobot dari rating kinerja pada setiap
alternatif pada semua atribut. Metode SAW membutuhkan proses normalisasi
matriks keputusan (X) ke suatu skala yang dapat diperbandingkan dengan semua
rating alternatif yang ada.
WEIGHTED
PRODUCT (WP)
Metode Weighted Product (WP) menggunakanperkalian untuk
menghubungkan rating atribut,dimana rating setiap atribut harus dipangkatkan
dulu dengan bobot atribut yang bersangkutan. Proses ini sama halnya dengan proses normalisasi.
ELECTRE
ELECTRE
digunakan untuk kasus-kasus dengan banyak alternatif namun hanya sedikit
kriteria yang dilibatkan. Suatu alternatif dikatakan mendominasi alternatif
yang lainnya jika suatu atau lebih kriteria melebihi (bandingkan dengan
kriteria dari alternatif yang lain) dan sama dengan kriteria lain yang tersisa.
Technique for
Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
Didasarkan
pada konsep bahwa alternatif terbaik tidak hanya memiliki jarak terpendek dari
solusi ideal positif namun juga memiliki jarak terpanjang dari solusi ideal
negatif. Hasil dari metode ini adalah nilai preferensi yang menunjukkan tingkat
kesesuaian antara minat dan kemampuan mahasiswa, dimana evaluasi minat
dilakukan dengan mengisi matriks pembandingan berpasangan dan evaluasi kemampuan
dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan.
Analytic
Hierarchy Process (AHP)
teknik
untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang bertujuan untuk menentukan
pilihan terbaik dari beberapa alternatif yang dapat diambil. Tahapan pertama
dari AHP adalah menstrukturkan alur pengambilan keputusan berdasarkan dua
komponen utama; Komponen pertama adalah tujuan dari AHP dan variabel yang
digunakan, sedangkan komponen kedua adalah alternatif-alternatif yang dapat
diambil untuk memenuhi tujuan AHP tersebut.
BAB
3
PEMBAHASAN
3.1 PERANCANGAN SISTEM FMADM
Seperti yang telah dijelaskan pada pendahuluan, jika
penilaian dilakukan dengan melihat nilai-nilai terhadap indikator (variabel)
yaitu jumlah penduduk, harga lokasi/tempat, target konsumen, kelengkapan usaha,
jumlah usaha/pesaing, potensi perkembangan, ketertarikan penduduk, dan
transportasi/angkutan umum.
Selanjutnya masing-masing indikator tersebit dianggap sebagai
kriteria yang akan dijadikan sebagai faktor untuk menentukan lokasi pembangunan
rumah makan yang strategis dan himpunan fuzzy nya adalah tidak ada, sangat
rendah, rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi. Himpunan ini kemudian
diperlakukan sebagai input kedalam sistem FMADM (dalam hal ini disebut sebagai
Ci).
3.2
ANALISIS
KEBUTUHAN INPUT
Input untuk melakukan proses pengambilan keputusan dari beberapa
alternatif ini dilakukan dengan menggunakan asumsi penulis berdasarkan
observasi yang telah dilakukan sehingga penulis berusaha semaksimal mungkin
untuk objektif.
Keluaran yang dihasilkan dari enelitian ini adalah sebuah
alternatif yang memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan alternatif lain.
Pada penelitian ini hasil keluarannya diambil dari urutan alternatif tertinggi
ke alternatif terendah. Hasil akhir yang dikeluarkan oleh program nanto berasal
dari nilai setiap kriteria, karena dalam setiap kriteria memiliki nilai yang
berbeda-beda. Alternatif yang dimaksud adalah sampel lokasi yang penulis ambil.
3.3 KRITERIA DAN PEMBOBOTAN
Dalam metode penelitian ini ada bobot dan kriteria yang dibutuhkan
untuk menentukan lokasi mana yang peling strategis untuk membangunan rumah
makan. Adapun kriteria tersebut adalah
Gambar 2. Kriteria untuk pembobotan
Dari masing-masing kriteria tersebut, maka dibuat
variabel-variabelnya. Dimana dari suatu variabel tersebut akan dirubah ke dalam
bilangan fuzzy nya. Di bawah ini adalah bilangan fuzzy dari bobot
di atas.
|
Variabel
|
Bilangan Fuzzy
|
|
Tabel ...
|
0
|
|
Tabel ...
|
2
|
|
Tabel ...
|
4
|
|
Tabel ...
|
6
|
|
Tabel ...
|
8
|
|
Tabel ...
|
10
|
Gambar 3. Bilangan Fuzzy
Gambar
4. Pengambilan Keputusan
Untuk mendapatkan variabel tersebut harus dibuat dalam grafik
supaya lebih jelas pada gambar berikut ini:
3.3.1 Kriteria Jumlah
Penduduk
Variabel
jumlah penduduk dikonversikan dengan bilangan fuzzy di bawah ini.
Tabel
1. Jumlah penduduk (tingkat kecamatan)
|
Jumlah penduduk
|
Nilai
|
|
< 30.000 jiwa
|
2
|
|
>30.000 – 50.000 jiwa
|
4
|
|
> 50.000 – 70.000 jiwa
|
6
|
|
> 70.000 – 90.000 jiwa
|
8
|
|
> 90.000
jiwa
|
10
|
3.3.2 Kriteria Harga Lokasi
/ Tempat
Variabel
harga lokasi dikonversikan dengan bilangan fuzzy di bawah ini.
Tabel
2. Harga lokasi / tempat (asumsi tanah 25x25m)
|
Harga lokasi / tempat
|
Nilai
|
|
> Rp 1 M
|
2
|
|
> Rp 800 jt – Rp 1 M
|
4
|
|
> Rp 600 jt – Rp 800 jt
|
6
|
|
> Rp 400 jt – Rp 600jt
|
8
|
|
< Rp 400 jt
|
10
|
3.3.3 Kriteria Target
Konsumen
Variabel
target konsumen dikonversikan dengan bilangan fuzzy di bawah ini.
Tabel
3. Target konsumen (asumsi per-hari)
|
Target konsumen
|
Nilai
|
|
<100 orang
|
2
|
|
>100 - 300 orang
|
4
|
|
>300 - 500 orang
|
6
|
|
>500 - 700 orang
|
8
|
|
>700 orang
|
10
|
3.3.4 Kriteria Kelengkapan
Usaha
Variabel
kelengkapan usaha dikonversikan dengan bilangan fuzzy di bawah ini.
Tabel
4. Kelengkapan usaha (air, listrik, pembuangan, dll)
|
Kelengkapan usaha
|
Nilai
|
|
Sangat tidak lengkap
|
2
|
|
Tidak lengkap
|
4
|
|
Sedang
|
6
|
|
Lengkap
|
8
|
|
Sangat lengkap
|
10
|
3.3.5 Kriteria Jumlah Usaha
/ Pesaing
Variabel
jumlah usaha/pesaing dikonversikan dengan bilangan fuzzy di bawah ini.
Tabel
5. Jumlah usaha/pesaing
|
Jumlah usaha/pesaing
|
Nilai
|
|
Sangat tinggi
|
2
|
|
Tinggi
|
4
|
|
Sedang
|
6
|
|
Rendah
|
8
|
|
Sangat rendah
|
10
|
3.3.6 Kriteria Potensi
Perkembangan Lokasi
Variabel
potensi perkembangan lokasi dikonversikan dengan bilangan fuzzy.
Tabel
6. Potensi perkembangan lokasi
|
Potensi perkembangan lokasi
|
Nilai
|
|
Sangat rendah
|
2
|
|
Rendah
|
4
|
|
Sedang
|
6
|
|
Tinggi
|
8
|
|
Sangat tinggi
|
10
|
3.3.7 Kriteria Ketertarikan
Penduduk
Variabel
ketertarikan penduduk dikonversikan dengan bilangan fuzzy di bawah.
Tabel
7. Ketertarikan penduduk
|
Ketertarikan penduduk
|
Nilai
|
|
Sangat rendah
|
2
|
|
Rendah
|
4
|
|
Sedang
|
6
|
|
Tinggi
|
8
|
|
Sangat tinggi
|
10
|
3.3.8 Kriteria Ada
Transportasi / Angkutan Umum
Variabel
transportasi / angkutan umum dikonversikan dengan bilangan fuzzy..
Tabel
8. Transportasi / angkutan umum
|
Transportasi / angkutan umum
|
Nilai
|
|
Sangat sedikit
|
2
|
|
Sedikit
|
4
|
|
Sedang
|
6
|
|
Banyak
|
8
|
|
Sangat banyak
|
10
|
3.4 PERANCANGAN PROGRAM
Telah dibnagun sebuah sistem pendukung keputusan untuk membantu
penentuan lokasi strategis dalam pembangunan rumah makan berdasarkan
kriteria-kriteria yang ditentukan, dimana kriteria tersebut diterjemahkan dari
bilangan fuzzy ke dalam bentuk bilangan cripn, sehingga nilainya akan
bisa dilakukan proses perhitungan untuk mencari alternatif terbaik. Dari
penelitian tersebut diketahui bahwa semakin banyak sampel yang dipunyai, maka
tingkat validitasnya akan cenderung naik dan hasil akhir dari penelitian ini
adalah sebuah alternatif yang memiliki nilai alternatif terbaik dari alternatif
lain.
MASUKAN DATA
|
Kriteria
|
Alternatif
|
||||
|
Jl. Gajah Mada - Batu
|
Jl. Suhat - Malang
|
Jl. Ahmad Yani - Gurah (Kediri)
|
Jl. Ir. H Juanda - Sragen
|
Jl. Cokroaminoto - Yogjakarta
|
|
|
Jumlah penduduk
(orang)
|
46.777
|
169.151
|
55.340
|
58.331
|
154.900
|
|
Harga lokasi/tempat
(25x25m)
|
625.000.000
|
1.250.000.000
|
625.000.000
|
468.750.000
|
3.125.000.000
|
|
Target konsumen
|
>300 - 500
|
>500 - 700
|
>300 - 500
|
>500 - 700
|
>700
|
|
Kelengkapan usaha
|
Sangat Lengkap
|
Sangat Lengkap
|
Sangat Lengkap
|
Sangat Lengkap
|
Sangat Lengkap
|
|
Jumlah pesaing
|
Sedang
|
Tinggi
|
Rendah
|
Rendah
|
Sangat Tinggi
|
|
Potensi perkembangan
|
Tinggi
|
Sedang
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Rendah
|
|
Ketertarikan penduduk
|
Sedang
|
Tinggi
|
Sedang
|
Tinggi
|
Tinggi
|
|
Transportasi
|
Banyak
|
Banyak
|
Sangat banyak
|
Sangat banyak
|
Banyak
|
Keterangan
pemberian bobot:
1.
Jl. Gaja Mada –
Batu
Target konsumen dari asumsi berdasarkan melihat: banyaknya
pengunjung karena wisata di Batu yang sangat banyak dan jalur transportasi yang
ramai. Potensi perkembangan tinggi karena banyak pengunjung yang ditunjang oleh
banyaknya tempat wisata di kota batu. Selain itu transportasi sangat lengkap
karena merupakan jalur utama menuju beberapa kota diantaranya malang, pasuruan,
probolinggo, surabaya, dan lain sebagainya. Angkutan umum yang tersedia banyak
yaitu angkot dan ojek.
2. Jl. Suhat – Malang
Potensi perkembangan sedang karena banyaknya pesaing yang sangat
tinggi. Ketertarikan penduduk tinggi karena pemukinan yang padat dan banyaknya
mahasiswa disana yang mayoritas bergaya hidup konsumtif. Transportasi lengkap
karena ada angkot dan ojek, dan merupakan jalan besar.
3. Jl. Ahmad Yani – Gurah
Jumlah
pesaing rendah karena belum banyak rumah makan yang ada disana. Potensi
perkembangan tinggi karena pesaing yang rendah yang kondisi pertokoan disana
yang memungkinkan para pengunjung setelah lelah berbelanja mampir untuk
bersantap. Transportasi disana sangat lengkap karena dilewati oleh bus,
tersedianya angkot, ojek dan becak.
4.
Jl. Ir. H.
Juanda – Sragen
Jumlah
pesaing rendah karena belum banyak rumah makan yang ada disana. Potensi
perkembangan tinggi kerena pesaing rendah, lokasi dekat dengan alun-alun
Sragen. Transportasi sangat lengkap karena dilewati bis antar kota bahkan antar
provinsi, selain itu ada angkot, ojek, becak dan delman.
5.
Jl.
Cokroaminoto – Yogjayakta
Jumlah
pesaing sangat tinggi karena telah banyak berdiri rumah makan disekitar lokasi.
Potensi perkembangan rendah karena banyaknya pesaing. Ketertarikan penduduk
tinggi kerena banyaknya wisatawan, dekat dengan sekolah, tempat bimbel dan
lain-lain. Transportasi dilewati trans-Jogja dan bis.
PROSES
PERANGKINGAN
|
Kriteria
|
Alternatif
|
||||
|
Jl. Gajah Mada - Batu
|
Jl. Suhat - Malang
|
Jl. Ahmad Yani - Gurah (Kediri)
|
Jl. Ir. H Juanda - Sragen
|
Jl. Cokroaminoto - Yogjakarta
|
|
|
C1
|
4
|
10
|
6
|
6
|
10
|
|
C2
|
6
|
2
|
6
|
8
|
2
|
|
C3
|
6
|
8
|
6
|
8
|
10
|
|
C4
|
10
|
10
|
10
|
10
|
10
|
|
C5
|
6
|
4
|
8
|
8
|
2
|
|
C6
|
8
|
6
|
8
|
8
|
4
|
|
C7
|
6
|
8
|
6
|
8
|
8
|
|
C8
|
8
|
8
|
10
|
10
|
8
|
|
BOBOT
|
54
|
56
|
60
|
66
|
54
|
KEPUTUSAN (HASIL)
|
No.
|
ALTERNATIF
|
KEPUTUSAN
|
|
1
|
Jl. Gajah Mada - Batu
|
TIDAK
LAYAK
|
|
2
|
Jl. Suhat - Malang
|
TIDAK
LAYAK
|
|
3
|
Jl. Ahmad Yani - Gurah (Kediri)
|
LAYAK
|
|
4
|
Jl. Ir. H Juanda - Sragen
|
LAYAK
|
|
5
|
Jl. Cokroaminoto - Yogjakarta
|
TIDAK
LAYAK
|
Dari penelitian ini diketahui bahwa hasil akhir dari penelitian
adalah sebuah alternatif yang memiliki nilai alternatif terbaik dari alternatif
yang lain.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar