Nilai
Nilai adalah sesuatu
yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Nilai
adalah kualitas atau keadaan yang bermanfaat bagi manusiabaik lahir maupun
batin. Nilai menjadikan manusia terdorong untuk melakukan tindakan agar harapan
itu terwujud dalam kehidupannya. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu
berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Contoh nilai: keindahan, keadilan,
kemanusiaan, kearifan, kesejahteraan dan lain-lain.'
Menurut
Bambang Daroeso (1986) sifat-sifat
nilai adalah sebagai berikut:
a.
Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada
dalam kehidupan manusia.
Misalnya:
kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu. Yang
dapat kita indra adalah kejujuran itu.
b.
Nilai memiliki sifat normatif yaitu mengandung harapan, cita-cita, dan suatu
keharusan.
Misalnya:
nilai keadilan, semua orang berharap dan mendapatkan dan berperilaku yang
mencerminkan nilai keadilan.
c.
Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung
nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya,
nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa
mencapai derajat ketakwaan.
Dalam
filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu:
a. Nilai
logika (nilai benar salah)
Misalnya: Jika seorang siswa dapat menjawab suatu
pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita
katakan salah.
b.
Nilai estetika (nilai indah tidak indah)
Misalnya:
Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya
sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu (nilai
estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan).
c. Nilai
etika/moral (nilai baik buruk)
Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup
yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan
diwariskan dari satu orang ke orang yang lain. Contoh: turan dalam lingkungan publik seperti aturan
mengunjungi pasien di rumah sakit sesuai dengan jadwal
yang ditetapkan oleh rumah sakit.
Moral untuk mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan kelakuan seseorang,
karena nilai dijadikan standar perilaku. Contoh: berilah kepada
orang lain apa yang menjadi haknya.
Macam-macam
nilai menurut Prof. Dr. Notonagoro
adalah sebagai berikut:
a.
Nilai material adalah segala sesuatu
yang berguna bagi unsur manusia. Contoh : makan, minum, pakaian, emas dan
segala sesuatu yang berguna bagi manusia karena materi tersebut bernilai.
b.
Nilai vital adalah segala sesuatu yang
berguna bagi manusia untuk dapat mengandalkan kegiatan atau aktivitas . Contoh:
- Kompor
mempunyai nilai tertentu karena digunakan untuk memasak.
Jika kompor itu rusak maka menjadi tidak bernilai
karena tidak dapat digunakan.
- Kalkulator
bagi bendahara
- Buku
paket bagi siswa saat belajar
- Motor
bagi tukang ojek
c.
Nilai kerohanian adalah segala sesuatu yang
berguna bagi rohani manusia.
Nilai
kerohanian dibedakan atas empat Macam :
-
Nilai Kebenaran/kenyataan/ilmu
pengetahuan yakni bersumber dari unsur akal manusia (rasio, budi, cipta).
Contoh: bumi itu bulat, matahari adalah pusat tata surya.
-
Nilai Keindahan yakni bersumber dari
unsur rasa manusia (perasaan, estetika). Contohnya: tari-tarian.
-
Nilai Moral/kebaikan yakni bersumber
dari unsur kehendak atau kemauan (karsa, etika).
-
Nilai Regius yakni merupakan nilai
ketuhanan, kerohanian yang tinggi, dan mutlak yang bersumber dari keyakinan
atau kepercayaan manusia. Contoh: ritual-ritual keagamaan.
Sikap
Sikap adalah keadaan
diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan
sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi
di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk
merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.
Proses belajar sosial
terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk
pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya.
Diantara berbagai faktor yang
mempengaruhi pembentukan sikap adalah:
a. Pengalaman
pribadi. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan
lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
b. Kebudayaan.
Menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk
kepribadian seseorang.
c. Orang
yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah
dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara
lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
d. Media
massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio,
mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya
informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
e. Institusi
pendidikan dan agama. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara
sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan
dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
f. Faktor
emosi dalam diri. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang
didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau
pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara
dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula
merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. Contohnya bentuk
sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.
Komponen
sikap menurut Azwar (2005) adalah:
a.
Kognitif
Kognitif terbentuk dari pengetahuan dan informasi yang diterima yang
selanjutnya diproses menghasilkan suatu keputusan untuk bertindak.
b.
Afektif
Menyangkut masalah emosional subyektif sosial terhadap suatu obyek, secara
umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap suatu
obyek.
c.
Konatif
Menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada
dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapinya.
Tingkatan
sikap menutut Notoatmodjo (2003)
teridiri dari:
a.
Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang
diberikan (obyek).
b.
Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan sesuatu dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c.
Menghargai (valuting)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan/mendiskusikan suatu masalah adalah
suatu indikasi sikap.
d.
Bertanggung jawab (responsile)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Macam sikap menurut Heri
Purwanto (1998) yaitu:
a.
Sikap positif, kecenderungan tindakan adalah
mendekati, menyenangi dan mengharapkan obyek tertentu. Faktor untuk menambah
sikap positif: antusiasme, spiritual, impian. Manfaat sikap positif
diantaranya:
-
Meningkatkan produktifitas : rajin
-
Membantu perkembangan kelompok kerja : teladan
-
Membantu pemecahan masalah : optimis, kerja keras
-
Meningkatkan kualitas : cermat, berpikir ke depan
-
Menjamin kesetiaan : jujur
-
Mengurangi ketegangan : sopan, tenang, sabar
-
Mendorong orang lain meningkatkan kontribusinya
Contoh sikap positif diantaranya:
- Disiplin
- Suka
bekerja keras
- Ulet
- Jujur
- Setia
kawan
- Kekeluargaan
- Rela
berkorban
- Selalu
menyelesaikan tanggung jawab
- Penolong
- Berani
membela kebenaran
- Memiliki
toleransi yang tinggi
- Hemat
- Gemar
menabung
- Hidup
sederhana
- Bertakwa
terhadap Tuhan yang Maha Esa
- Selalu
memohon pertolongan Tuhan
b. Sikap negatif, terdapat kecenderungan untuk
menjauhi, menghindari, membenci dan tidak menyukai obyek tertentu. Kerugian
sikap negatif diantaranya:
- Menurunkan
produktivitas
- Menghambat
perkembangan kelompok kerja
- Menghambat
pemecahan masalah
- Menurunkan
kualitas
- Menghilangkan
kesetiaan
- Menghambat
pengembangan hubungan antar manusia
- Menimbulkan
ketegangan
Contoh sikap negatif diantaranya:
- Kemalasan
- Merasa
paling berkuasa
- Emosional
- Suka
memaksakan kehendak
- Ceroboh
- Tidak
tertib
- Tidak
disiplin
- Rendah
diri
- Cemburu
- Pemalu
- Boros
- Bergaya
hidup mewah
- Tidak
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Kepuasan
Kerja
Kepuasan
kerja adalah bentuk perasaan dan ekspresi seseorang ketika dia mampu/tidak
mampu memenuhi harapan dari proses kerja dan kinerjanya. Timbul dari proses
transformasi emosi dan pikiran dirinya yang melahirkan sikap atau nilai
terhadap sesuatu yang dikerjakan dan diperolehnya.
Faktor yang mempengaruhi kepuasan
kerja menurut Levi (2002) diantaranya:
a. Pekerjaan
itu sendiri (Work It self), Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan
tertentu sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan
serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan
tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
b. Atasan
(Supervision), Atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya.
Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus
atasannya.
c. Teman
sekerja (Workers), Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara
pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang
berbeda jenis pekerjaannya.
d. Promosi (Promotion),
Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk
memperoleh peningkatan karier selama bekerja.
e. Gaji/Upah (Pay),
Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau
tidak.
Aspek-aspek
lain yang terdapat dalam kepuasan kerja :
a.
Kerja yang secara mental
menantang
b.
Berat-ringannya pekerjaan
c.
Balas jasa yang adil dan
layak
d.
Kondisi kerja yang
mendukung
e.
Rekan kerja yang mendukung
f. Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan
g. Peralatan uang menunjang pelaksanaan pekerjaan
h. Sifat
pekerjan (monoton/tidak)
i. Suasana dan
lingkungan pekerjaan
Dalam suatu
organisasi ketidakpuasan kerja dapat ditunjukan melalui berbagai cara, Robins
and Judge (2009) menerangkan ada 4 respon yang berbeda satu sama
lain dalam 2 dimensi yaitu konstruktif/destruktif dan aktif/pasif. Sebagai
berikut:
a.
Exit , Ketidakpuasan
ditunjukkan melalui perilaku diarahkan pada
meninggalkan organisasi, termasuk mencari posisi baru atau mengundurkan diri.
b.
Voice,
Ketidakpuasan ditunjukkan melalui usaha secara aktif dan konstruktif untuk memperbaiki keadaan, termasuk menyarankan perbaikan, mendiskusikan masalah
dengan atasan, dan berbagai bentuk aktivitas perserikatan.
c.
Loyalty, Ketidakpuasan
ditunjukkan secara pasif, tetapi optimistik dengan menunggu kondisi untuk memperbaiki, termasuk dengan
berbicara bagi organisasi dihadapan kritik eksternal dan mempercayai organisasi
dan manajemen melakukan hal yang benar.
d.
Neglect, Ketidakpuasan ditunjukkan melalui tindakan secara
pasif membiarkan kondisi semakin buruk, termasuk kemangkiran atau keterlambatan secara kronis, mengurangi usaha,
dan meningkatkan tingkat kesalahan.
Menurut Kreitner
dan Kinicki (2005) terdapat lima faktor yang
dapat mempengaruhi timbulnya kepuasan yaitu:
a.
Need fulfillment (pemenuhan kebutuhan).
Model ini
mengajukan bahwa kepuasan ditentukan tingkatan karakteristik pekerjaan
yang memungkinkan kesempatan pada individu untuk memenuhi kebutuhannya.
b. Discrepancies (perbedaan).
Model ini menyatakan bahwa kepuasan merupakan suatu
hasil memenuhi harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa
yang diharapkan dan yang diperoleh individu dari pekerjaan. Apabila harapan
lebih besar daripada apa yang diterima, orang akan tidak puas. Sebaliknya
diperkirakan individu akan puas apabila mereka menerima manfaat diatas harapan.
c. Value attainment (pencapaian
nilai).
Gagasan value attainment adalah bahwa kepuasan merupakan hasil dari persepsi
pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja individual yang penting.
d. Equity (keadilan).
Dalam model ini dimaksudkan bahwa
kepuasan merupakan fungsi dari seberapa adil individu diperlakukan di tempat
kerja. Kepuasan merupakan hasil dari persepsi orang bahwa perbandingan antara
hasil kerja dan inputnya relatif lebih menguntungkan dibandingkan dengan
perbandingan antara keluaran dan masukkan pekerjaan lainnya.
e.
Dispositional/genetic components (komponen
genetik).
Beberapa
rekan kerja atau teman tampak puas terhadap variasi lingkungan kerja, sedangkan
lainnya kelihatan tidak puas. Model ini didasarkan pada keyakinan bahwa kepuasan
kerja sebagian merupakan fungsi sifat pribadi dan faktor genetik. Model
menyiratkan perbedaan individu hanya mempunyai arti penting untuk menjelaskan
kepuasan kerja seperti halnya karakteristik lingkungan pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar