Kamis, 05 November 2015

Analisis film ; ISBD (Ilmu Sosial Budaya Dasar)

Analisis Film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”

            Bercerita tentang Muluk (Reza Rahardian) yang telah 2 tahun lulus sebagai Sarjana Management tapi belum juga dapet pekerjaan. Sampai akhirnya Muluk bertemu dengan Komet, seorang anak yang berprofesi sebagai pencopet, dalam operasinya dia bersama beberapa temannya. Akhirnya, Muluk pun tertarik untuk memberikan pendidikan bagi para pencopet cilik yang berjumlah kira-kira hampir 20 orang itu dengan caranya sendiri.
            Setelah merasa pekerjaannya sebagai Pengembang Sumber Daya Manusia, yaitu copet dirasa membutuhkan bantuan, akhirnya Muluk meminta Samsul (Asrul Dahlan) dan Pipit (Ratu Bravani) sebagai partner kerjanya. Samsul yang notabene-nya seorang Sarjana Pendidikan menduduki jabatan sebagai guru membaca yang Pancasilais dan Pipit, sang anak Pak Haji sebagai guru ngaji para pencopet tersebut.
            Tidak mudah untuk ngajarin copet, itu pula yang dirasakan Muluk, Samsul dan Pipit, tapi mereka tidak pantang menyerah untuk membuat para pencopet cilik itu menjadi lebih berpendidikan. Tapi pada akhirnya mereka bertiga berhasil membuat para pencopet itu pintar, berjiwa patriotisme, hafal Pancasila dan juga bisa sholat dan mengaji. Dan para pencopet itu berpindah profesi menjadi padagang asongan.
Amanat :
·         Nilai moral, yaitu tentang masalah kemiskinan. Betapa sulitnya anak-anak seperti itu harus mencopet dan dicopet pula lah hak-hak kaum minoritas seperti mereka oleh koruptor yang kita tahu jauh ‘lebih berpendidikan’.
·         Nilai pendidikan, yaitu betapa pentingnya pendidikan, tapi paling penting tentu bagaimana menerapkan pendidikan itu dalam kehidupan kita.
·         Nilai sosial, yaitu pentingnya solidaritas antar sesama. Seperti apa yang dilakukan ke-3 penolong para pencuri itu. Mereka berusaha menyadarkan bahwa pendidikan dan agama itu adalah hal paling utama untuk menunjukkan arah kehidupan mereka meskipun apa yang mereka lakukan tanpa imbalan dan semata-mata hanya mengharapkan kehidupan orang disekitar mereka jauh lebih baik.
·         Nilai politik, yaitu perbaikan mutu kehidupan dengan memberikan kepercayaan kepada seseorang sebagai wakil kita (rakyat) secara cermat. Seperti yang ada pada klimaks film ini, yaitu para pencopet mulai memilih jalan baru yaitu ngasong dijalan, tetapi yang terjadi ialah mereka justru lebih terancam daripada mencopet, sebab kebebasan tidak dirasakan. Kata salah satu petugas mereka menganggu ketertiban jalan. yang lebih lucu disaat mereka tertekan dalam memilih jalan hidup yang lebih baik justru mereka lebih merasakan ancaman akibat hukum yang hanya mempertimbangkan hal-hal daripada ketertiban namun tidak pernah memberikan solusi yang terbaik bagi mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menaruh harapan dan rezki yang halal dipinggir jalan, padahal dalam UUD 1945 pasal 34 ayat 1 berbunyi : setiap anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara, dan pastinya pemeliharaan atas pendidikan dan kebutuhan dasar untuk mereka.
·         Nilai nasionalsime, yaitu kehadiran anak-anak miskin yang terlantar hadir sebagai tokoh para pencopet seharusnya menyadarkan kita untuk menelaah lebih jauh tentang makna kemerdekaan serta penghayatan secara mendalam lagu kebangsaan Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar