Analisis Film “Alangkah
Lucunya Negeri Ini”
Bercerita tentang
Muluk (Reza Rahardian) yang telah 2 tahun lulus sebagai Sarjana Management tapi
belum juga dapet pekerjaan. Sampai akhirnya Muluk bertemu dengan Komet, seorang
anak yang berprofesi sebagai pencopet, dalam operasinya dia bersama beberapa
temannya. Akhirnya, Muluk pun tertarik untuk memberikan pendidikan bagi para
pencopet cilik yang berjumlah kira-kira hampir 20 orang
itu dengan caranya sendiri.
Setelah merasa
pekerjaannya sebagai Pengembang Sumber Daya Manusia, yaitu copet dirasa
membutuhkan bantuan, akhirnya Muluk meminta Samsul (Asrul Dahlan) dan Pipit
(Ratu Bravani) sebagai partner kerjanya. Samsul yang
notabene-nya seorang Sarjana Pendidikan menduduki jabatan sebagai guru membaca
yang Pancasilais dan Pipit, sang anak Pak Haji sebagai guru ngaji para pencopet
tersebut.
Tidak
mudah untuk ngajarin copet, itu pula yang dirasakan Muluk, Samsul dan Pipit,
tapi mereka tidak pantang menyerah untuk membuat para pencopet cilik itu
menjadi lebih berpendidikan. Tapi pada akhirnya mereka bertiga berhasil membuat
para pencopet itu pintar, berjiwa patriotisme, hafal Pancasila dan juga bisa
sholat dan mengaji. Dan para pencopet itu berpindah profesi menjadi padagang
asongan.
Amanat :
·
Nilai moral, yaitu tentang
masalah kemiskinan. Betapa sulitnya anak-anak seperti itu harus mencopet dan
dicopet pula lah hak-hak kaum minoritas seperti mereka oleh koruptor yang kita
tahu jauh ‘lebih berpendidikan’.
·
Nilai pendidikan, yaitu betapa
pentingnya pendidikan, tapi paling penting tentu bagaimana menerapkan
pendidikan itu dalam kehidupan kita.
·
Nilai sosial, yaitu pentingnya
solidaritas antar sesama. Seperti apa yang dilakukan ke-3 penolong para pencuri
itu. Mereka berusaha menyadarkan bahwa pendidikan dan agama itu adalah hal
paling utama untuk menunjukkan arah kehidupan mereka meskipun apa yang mereka
lakukan tanpa imbalan dan semata-mata hanya mengharapkan kehidupan orang
disekitar mereka jauh lebih baik.
·
Nilai politik, yaitu perbaikan
mutu kehidupan dengan memberikan kepercayaan kepada seseorang sebagai wakil
kita (rakyat) secara cermat. Seperti yang ada pada klimaks film ini, yaitu para
pencopet mulai memilih jalan baru yaitu ngasong dijalan, tetapi yang terjadi
ialah mereka justru lebih terancam daripada mencopet, sebab kebebasan tidak
dirasakan. Kata salah satu petugas mereka menganggu ketertiban jalan. yang
lebih lucu disaat mereka tertekan dalam memilih jalan hidup yang lebih baik
justru mereka lebih merasakan ancaman akibat hukum yang hanya mempertimbangkan
hal-hal daripada ketertiban namun tidak pernah memberikan solusi yang terbaik
bagi mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menaruh harapan dan rezki
yang halal dipinggir jalan, padahal dalam UUD 1945 pasal 34 ayat 1 berbunyi :
setiap anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara, dan pastinya
pemeliharaan atas pendidikan dan kebutuhan dasar untuk mereka.
·
Nilai nasionalsime, yaitu
kehadiran anak-anak miskin yang terlantar hadir sebagai tokoh para pencopet
seharusnya menyadarkan kita untuk menelaah lebih jauh tentang makna kemerdekaan
serta penghayatan secara mendalam lagu kebangsaan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar